"Global Wakaf" Akselerasi Laju Wakaf Produktif di Indonesia

"Global Wakaf" Akselerasi Laju Wakaf Produktif di Indonesia

GlobalWakaf, JAKARTA - Membincang wakaf, bisa dibilang salah satu kekuatan filantropi Islam yang satu ini memang belum terlalu melekat dalam perbincangan masyarakat Indonesia. Isu tentang wakaf sebagai bagian dari ibadah filantropi jarang disebut dalam lintasan diskusi media sosial, ruang-ruang maya, bahkan ruang nyata. Tak hanya di Indonesia, pamor tentang kekuatan wakaf ini pun sedang dalam fase redupnya di belahan dunia lain, termasuk di negeri-negeri kaya loh jinawi dari Timur Tengah macam Arab Saudi, Uni Emirates, Qatar dan lain-lain. Apa sebabnya?

Simpulan itu bukanlah analisis sembarang, pernyataan bahwa isu tentang wakaf sedang memasuki fase redupnya inilah yang tercantum dari laporan akhir Thomson Reuters Islamic Finance Development Indicator tahun 2016, disajikan pada sesi diskusi lintas bangsa di gelaran World Islamic Economic Forum ke 12 di JCC Jakarta, pekan pertama Agustus kemarin.

Thomson Reuters merilis laporan mendalam tentang gambaran perkembangan ekonomi Islam di seluruh dunia. Salah satu poinnya mengurai soal potensi filantropi wakaf di seluruh dunia yang belum terkelola seutuhnya. Sebab, sampai hari ini pengelolaan wakaf terkesan tidak profesional. Kenyataan ini terjadi di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia.

Dalam diskusi lintas bangsa tersebut, Global Wakaf menyadari tantangan mengembangkan potensi filantropi wakaf di Indonesia sudah terpampang di depan mata. “Wakaf adalah salah satu elemen filantropi Islam paling menjanjikan, kenapa? Karena ekonomi Islam di Indonesia itu pertumbuhannya luar biasa. Lebih dari setengah jumlah Muslim di Indonesia pun berada dalam capaian ekonomi kelas menengah yang mampu untuk menggerakkan potensi wakaf sebagai solusi eskalasi ekonomi bangsa,” ungkap Hafit Mas'oed, Direktur Global Wakaf Foundation.

Untuk diketahui, sudah lebih se-dekade lalu urusan tentang wakaf diatur resmi melalui Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang wakaf. Badan Wakaf Indonesia sebagai lembaga independen di bawah negara untuk mengelola wakaf pun telah dibentuk sebagai amanah lanjutan dari lahirnya UU Wakaf No. 41 Tahun 2004.

Namun masalah pengelolaan wakaf yang tak profesional seperti terpapar dalam laporan Thomson Reuters Islamic Finance Development menjadi tantangan yang tak sederhana. Hafit mengungkapkan, dalam pertemuan World Islamic Economic Forum 12th pekan lalu, Ia mewakili Global Wakaf bertemu dengan ragam kawan lintas bangsa yang menyebut alasan serupa.

“Wakaf belum melambung sebagai kekuatan ekonomi besar, sebab kebanyakan urusan wakaf dikelola secara salah kaprah. Orang yang dipantik diskusinya tentang wakaf pasti akan langsung terpikir tentang wakaf masjid, wakaf lahan pemakaman, dan wakaf lahan sekolah. Padahal potensi wakaf jauh lebih besar dari itu,” kata Hafit.

Melansir laporan Thomson Reuters Islamic Finance Development, faktanya aset ekonomi Islam di seluruh dunia meningkat sebesar 10 persen mencapai angka $2 trillion sepanjang bergulirnya tahun 2015 lalu. Sejumlah 73% dari aset ekonomi Islam diwakili oleh Islamic Banks dan sisanya 13% merupakan sukuk. Berdasar proyeksi Thomson Reuters, hingga tahun 2020 kelak, kekuatan ekonomi Islam akan melesat tumbuh mencapai angka $3.2 trillion, dengan capaian Islamic Banking di angka $2.6 trillion.

Menyimak besaran kekuatan ekonomi Islam yang akan terus bertumbuh, Hafit optimis perkembangan wakaf di Indonesia pun akan semakin baik dalam tahun-tahun ke depan. “Global Wakaf akan mengawal edukasi dan pengelolaan wakaf menjadi lebih profesional. Wakaf itu harusnya produktif, pandangan tentang wakaf inilah yang perlahan harus diubah. Jika ingin potensi wakaf menyeruak kembali, maka wakaf harus produktif dan memberdayakan,” papar Hafit.

Sepanjang tahun 2016 ini merupakan awalan baik bagi Global Wakaf untuk menginisiasi edukasi dan komunikasi tentang wakaf produktif ke berbagai tingkatan masyarakat. “Global Wakaf menjadi pionir dalam hal ini. Merintis pandangan baru pada publik di Indonesia bahwa wakaf adalah ultimate filantropi untuk menggapai ultimate benefit,” ujar Hafit.

Sembari memulai edukasi tentang wakaf produktif, Global Wakaf sudah memantik dua program besar berupa Global Wakaf Tower dan Lumbung Pangan Masyarakat. Rintisan dua program inilah yang menjadi titik pijak baru untuk mengenalkan wakaf produktif ke masyarakat.

“Cuma satu cara membuat wakaf menjadi tren di negeri ini. Membuat awareness masyarakat terhadap wakaf menjadi tinggi. Berikan program pengelolaan wakaf produktif yang jelas dan profesional. Global Wakaf Tower misalnya, tanahnya adalah tanah wakaf, Global Wakaf kelola (gedung) itu dengan prinsip wakaf. Nanti akan disewakan sebagai ruang-ruang bisnis dan perputaran ekonomi. Hasil dari pengelolaan itu yang akan dikelola sebagai dana wakaf untuk penerima manfaat lebih luas lagi. Ekonomi berputar, dan wakaf menjadi fondasinya,” pungkas Hafit.[]

Penulis: Shulhan Syamsur Rijal

Tag

Belum ada tag sama sekali