1.200 Warga Palestina di Masafer Yatta Bersiap Hadapi Penggusuran Paksa

Sekitar 1.200 warga Palestina terancam diusir paksa usai pengadilan tinggi Israel memerintahkan penggusuran atas tempat tinggal di Masafer Yatta, Tepi Barat.

palestina digusur israel
Ilustrasi. Warga Palestina di Masafet terancam digusur paksa tempat tinggalnya oleh otoritas Israel. (AA/Mamoun Wazwaz)

ACTNews, TEPI BARAT – Sebanyak 1.200 warga Palestina yang tinggal di wilayah Masafer Yatta, di dekat Hebron, Tepi Barat, bersiap menghadapi penggusuran paksa oleh zionis Israel. Ancaman penggusuran muncul setelah pengadilan tinggi Israel menyatakan warga Palestina tidak memiliki hak atas wilayah Masafer Yatta, dan akan menjadikan area seluas 3000 hektare tersebut sebagai zona latihan militer Israel.

Bila hal ini terjadi, ini akan menjadi salah satu pengusiran paksa terbesar sejak okupasi Israel di Tepi Barat pada tahun 1967. Warga Palestina pun menolak tegas penggusuran ini, karena mereka telah tinggal secara permanen di Masafer Yatta jauh sebelum okupasi Israel dimulai.

Dikutip dari laman Reuters, penduduk Palestina mendesak masyarakat Internasional untuk turun tangan mencegah Israel melakukan tindakan keji tersebut. Mereka percaya bahwa penggusuran tersebut hanyalah dalih Israel agar wilayah Masafer Yatta bisa dijadikan area tempat tinggal bagi para pemukim Israel.

"Mereka ingin mengambil tanah ini dari kami untuk membangun pemukiman. Kami tidak akan pergi," kata Wadha Ayoub Abu Sabha, salah satu warga Masafer Yatta. 

Meski perintah penggusuran resmi dari pengadilan baru keluar Juni ini, namun Abu Sabha mengatakan bahwa Israel telah melakukan penggusuran ke bangunan-bangunan warga Palestina sejak bertahun-tahun sebelumnya. Israel berdalih bahwa bangunan yang didirikan warga Palestina tidak memiliki izin.

Dengan dikeluarkannya putusan pengadilan ini, penduduk Palestina di Masafer Yatta juga diperintahkan untuk menghentikan pembangunan rumah, dan bangunan pertanian serta kandang ternak.

Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), Israel telah menghancurkan atau menyita 217 bangunan Palestina di Masafer Yatta sejak 2011. Sedikitnya, 608 warga Palestina dinyatakan OCHA telah kehilangan rumahnya akibat penggusuran tersebut.

Sementara itu, dikutip dari Middle East Eye, penggusuran tempat tinggal warga Palestina di Masafer Yatta dianggap sebagai pelanggaran hukum internasional.

Dalam sebuah pernyataan, salah satu kelompok hak asasi manusia yang meninjau kasus ini, mengatakan bahwa keputusan yang diambil pengadilan tinggi Israel tidak berdasarkan keadilan, dan sangat merugikan pihak Palestina.

Senada dengan pernyataan tersebut, PBB dan Uni Eropa juga mengutuk putusan pengadilan dan mendesak Israel untuk menghentikan pembongkaran dan penggusuran di Masafer Yatta.

"Pembentukan zona tembak tidak dapat dianggap sebagai “alasan militer penting” untuk memindahkan penduduk yang berada di bawah pendudukan," kata juru bicara UE dalam sebuah pernyataan.[]