12 Tahun Duprani Mengayuh Sepeda untuk Mengajar

Bersepeda dengan jarak 10 kilometer untuk sampai di tempat mengajar bukanlah masalah buat guru dari Sekolah Dasar Negri (SDN) 4 Pelambuan, Banjarmasin Selatan ini.

Duprani dan sepedanya tengah bersiap untuk berangkat ke sekolah. (ACTNews/Budi)

ACTNews, BANJARMASIN - Duprani (58), sosok guru yang sudah tidak muda lagi. Usianya sudah lewat setengah abad, namun ia masih tetap semangat untuk mengajar di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 4 Pelambuan, Kecamatan Banjarmasin Barat, Kota Banjarmasin. Bak Oemar Bakri, setiap harinya ia kayuh sepeda untuk pergi ke sekolah. Bersepeda dengan jarak 10 kilometer untuk sampai di tempat mengajar bukanlah masalah bagi Duprani selama 12 tahun ini.

“Dari awal saya mengajar 2006 sampai sekarang saya tetap bersepeda untuk ke sekolah dan sudah menjadi kebiasaan saya,” ujar Duprani pada Kamis (5/12) lalu.

Mengajar, lanjut Duprani, bukanlah hal yang mudah. Menurutnya, ilmu pengetahuan yang guru berikan kepada muridnya akan menjadi tanggung jawab di dunia maupun di akhirat. “Sudah takdir saya menjadi guru,” ucap Duprani.

Duprani menjadi salah satu guru yang menerima beaguru dari Global Zakat-ACT pada Kamis (5/12) itu. Ia mengapresiasi kebaikan dermawan melalui program Sahabat Guru Indonesia yang diinisiasi oleh Global Zakat-ACT ini. Ia berpendapat, bantuan yang berguna bagi guru-guru di Indonesia apalagi mereka yang gajinya rendah dan tidak tetap.


Murid-murid Duprani menyambut guru mereka yang tiba di sekolah. (ACTNews/Budi)

“Terima kasih atas bantuan ini, semoga menjadi semangat saya menjadi seorang guru,” kata Duprani.

Anita, salah satu guru di SDN 4 Pelambuan, juga bersyukur atas kehadiran program Sahabat Guru Indonesia. Bantuan yang ia terima dirasa cukup membantu kebutuhan sehari-hari. Anita berharap bantuan ini dapat menyemangati para guru di Indonesia untuk mengajar.

Saya merasa bersyukur dengan hadirnya bantuan dari para dermawan. Semoga menjadi penyemangat kami untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan di daerah kami,” harap Anita.


Melalui program Sahabat Guru Indonesia, para guru prasejahtera di Indonesia menerima biaya hidup untuk menunjang ekonomi mereka. Adapun kriteria guru yang menerima manfaat dari program ini adalah mereka yang berpenghasilan di bawah Rp1 juta (termasuk guru honorer dan guru tahfiz), berasal dari wilayah prasejahtera, dan memiliki dedikasi mengajar yang tinggi untuk siswa-siswanya.

“Dengan program ini kita mengapresiasi semangat para guru yang tak kenal lelah dalam mendidik murid-muridnya. Amanah-amanah para dermawan, alhamdulillah apresiasi untuk para guru telah sampai pada di Kalimantan Selatan. Kami berharap melalui bantuan ini dapat menyemangati mereka dan membantu kondisi ekonomi mereka saat ini,” ujar Muhammad Ridha Wardhana dari Tim Program ACT Kalimantan Selatan. []