15 Guru di Semarang Terima Apresiasi di Tengah Kesulitan Pandemi

Lima belas guru menerima apresiasi dari program Sahabat Guru Indonesia yang diinisiasi Global Zakat - ACT, Jumat (27/3) lalu. Bantuan ini diharapkan dapat membantu mereka. Utamanya saat ini, di mana keadaan ekonomi sedang kurang stabil akibat pandemi Covid-19.

Salah satu penerima manfaat Sahabat Guru Indonesia di Semarang. (ACTNews)

ACTNews, SEMARANG – Global Zakat – ACT bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Jawa Tengah kembali mengimplementasikan program Sahabat Guru Indonesia. Global Zakat - ACT tetap berikhtiar untuk memenuhi kewajiban membantu para guru honorer agar mereka mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, terutama di tengah merebaknya pandemi Covid-19,.

Sebanyak 15 guru honorer di Kota Semarang mendapatkan bantuan biaya hidup pada Jumat (27/3) lalu. Program ini juga dikhususkan sebagai wadah untuk memberikan semangat tenaga pendidik yang masih terus berjuang memperbaiki nasibnya sebagai guru honorer.

Rasa senang dipanjatkan oleh para guru penerima bantuan. Salah satunya adalah Sunarti, seorang guru yang mengabdikan diri menjadi guru honorer di SD Negeri Candisari, dan setiap sore mengajar anak-anak di TPQ Rumah Jati, Jatingaleh, Kota Semarang.

"Alhamdulillah saya merasa terbantu sekali dalam hal finansial untuk kebutuhan sehari-hari dan dapat saya sisihkan sebagian untuk membayar sekolah anak-anak,” kata Sunarti.


Beberapa penerima manfaat Sahabat Guru Indonesia di Semarang. Bantuan diberikan satu per satu karena mengikuti imbauan pemerintah untuk menjaga jarak sosial. (ACTNews)

Hadirnya Covid-19 berdampak sekali terhadap perputaran perekonomian di keluarga mereka. Penuturan tersebut salah satunya datang dari Sutrisni, seorang guru Pos Paud Menur dan Pos Paud Harapan Bangsa, desa Jabungan, Gajahmungkur, Kota Semarang.

"Bantuan biaya hidup dalam kondisi pandemi virus corona ini sangat bermanfaat buat keluarga saya. Saya termasuk relawan sekaligus guru honorer. Sistemnya kalau di tempat saya mengajar honornya harian,” cerita Sutrisni. Ia melanjutkan, “Sehingga kalau tidak berangkat  ke sekolah tidak mendapatkan uang transport. Jadi sangat terasa sekali. Apalagi dalam 1-2 minggu seperti imbauan dari pemerintah untuk tidak mengadakan kegiatan belajar mengajar.”


Giyanto selaku Kepala Cabang ACT Jawa Tengah mengatakan, implementasi dilakukan dengan tetap mengindahkan kaidah untuk menjaga jarak fisik. Penyerahan bantuan Sahabat Guru Indonesia dilakukan kepada satu per satu guru dan terjadwal.

“Seperti arahan dari pemerintah, dengan menjaga jarak dan meminimalisir adanya kerumunan. Tidak lupa setiap orang mengenakan masker dan disediakan hand sanitizer dalam prosesi penyerahan bantuan ini,” ucap Giyanto.

Giyanto juga mengajak para dermawan sekalian untuk tidak melupakan mereka yang bekerja harian, termasuk guru honorer. Oleh karena itu, Giyanto meminta dukungan dari para dermawan untuk terus membantu mereka yang kini ekonominya mau tidak mau terdampak.

“Masalah virus corona ini ternyata bukan hanya menjadi masalah medis saja, tetapi saking meluasnya, juga mendampak ekonomi masyarakat. Jadi kami mohon dukungan dari para dermawan untuk meringankan beban mereka yang yang terdampak, termasuk guru-guru honorer,” ungkap Giyanto. []