193 Anak di Yaman Meninggal Dunia karena Kolera

Di enam bulan pertama 2019, jumlah kasus kolera di Yaman lebih banyak dibanding setahun sebelumnya. Lebih dari 400 ribu kasus kolera diidentifikasi. Separuh kasus tersebut terjadi pada anak-anak.

193 Anak di Yaman Meninggal Dunia karena Kolera' photo

ACTNews, HODEIDAH – Pertengahan April lalu, jurnalis Yaman Manal Qaed Alwesabi berada di salah satu bangsal rumah sakit di Hodeidah, Yaman. Di sampingnya, tertidur seorang perempuan di atas ranjang rumah sakit. “Sejak kolera mewabah, ada 1,5 juta kasus kolera dilaporkan. Satu di antaranya adalah kasus kolera ibu saya,” tulis Manal di salah satu opininya yang diterbitkan Al Jazeera awal Juli lalu.

Menurut penuturan Manal, semuanya terjadi begitu cepat. “Saya sedang berada di Sana’a ketika ibu menelpon kemarin sorenya. Ia mengatakan pada saya kalau ia mengalami diare akut,” lanjut Manal. Di hari berikutnya, saudara Manal menelepon dan mengatakan keadaan ibu mereka semakin parah dan sedang dibawa ke salah satu rumah sakit swasta. Diduga terinfeksi kolera, pihak rumah sakit menolak ibunda Mana; dan merujuknya ke fasilitas medis yang menangani kolera, yakni Rumah Sakit Al-Thawra.

“Saya benar-benar tidak tahu banyak soal kolera, sampai itu dapat menjadi penyakit yang mematikan,” tulis Manal.

Ketika kolera pertama kali terjadi di Hodeidah, para penduduk diminta untuk berhati-hati ketika mencuci buah dan sayur. Mereka diimbau menggunakan air yang telah diberi desinfektan. “Namun, seiring berlangsungnya perang yang menghancurkan infrastruktur, mengganggu pelayanan dasar, dan penyediaan makanan, kolera menyebar dengan cepat dan menyerang lebih banyak orang,” terang Manal.


Pada enam bulan pertama tahun 2019, Yaman telah terjangkit lebih banyak kolera dibandingkan sepanjang tahun 2018. Sebanyak 439,812 kasus kolera diidentifikasi. Sekitar 203.000 kasus di antaranya menjangkit anak-anak, sebagaimana dilansir dari Al Jazeera. Sedikitnya 193 anak meninggal dunia pada tahun ini. Angka pasien meninggal dunia sembilan kali lebih tinggi pada periode yang sama dibanding tahun lalu.

Salah satu pekerja sosial pemerhati anak di Yaman, Tamer Kirolos, mengatakan, kolera marak terjadi di negara-negara yang dilanda perang. Kolera telah menjadi endemik di yaman. “Sistem kesehatan yang di bawah tekanan telah membuat hanya separuh fasilitas kesehatan yang berfungsi,” ujar Tamer, sebagaimana ditulis Al Jazeera.

Belum lagi, kata Tamer, anak-anak yang kurang gizi lebih sangat rentan terinfeksi kolera. “Mereka tiga kali lebih berisiko meninggal dunia jika terserang kolera. Selama konflik berkecamuk, sistem air bersih rusak, dan pendanaan bantuan di Yaman masih terlalu rendah. Yang bisa kita lakukan adalah mencoba dan menjaga sebanyak mungkin anak-anak hidup," pungkas Tamer. []

Foto: Al Jazeera, ACT

Bagikan