2021, Serangan ke Palestina di Tepi Barat Lebih Parah Dibanding Dua Tahun Terakhir

Jumlah serangan pemukim Israel ke warga Palestina di Tepi Barat, terus meningkat. Pada paruh pertama 2021, jumlahnya dua kali lipat lebih tinggi dari serangan pada tahun 2020 dan 2019.

israel serang palestina
Ilustrasi. Intensitas serangan pemukim Israel ke warga Palestina di Tepi Barat terus meningkat. (Dok. AFP)

ACTNews, TEPI BARAT – Serangan pemukim Israel di desa-desa dan infrastruktur milik warga Palestina di Tepi Barat dilaporkan terus meningkat pada 2021. Pada paruh pertama tahun ini, jumlahnya lebih banyak ketimbang serangan pada tahun 2019 dan 2020.

Pada 2019, 363 serangan pemukim tercatat, sedangkan pada 2020, jumlahnya 507. Namun, pada paruh pertama tahun 2021, ada 416 serangan ke Palestina. Jumlah tersebut berarti lebih dari dua kali lipat dari jumlah pada periode yang sama di 2019 dan 2020.

Bukan hanya serangan fisik yang membuat banyak warga Palestina terluka, namun juga serangan dalam berbagai bentuk lainnya. Seperti pemukim yang kerap melakukan vandalisme dan pengrusakan ke berbagai properti milik warga Palestina, hingga dirusaknya lahan perkebunan milik petani Palestina.

Bahkan, pada Januari lalu, pemukim Israel dilaporkan membakar sebuah masjid di Desa Sharafat, pinggiran Yerusalem Timur. Slogan rasis terhadap muslim Palestina pun juga acap kali dilontarkan oleh para pemukim.

Sementara itu, pada awal Oktober lalu, pemukim Israel terlihat melakukan serangan ke para penggembala ternak Palestina di daerah Khillet Makhoul di Lembah Yordan utara. Aref Daraghmeh, seorang pembela hak asasi manusia di Palestina menyebut, pemukim melemparkan merica untuk mengusir penggembala dari padang rumput.

Daraghmeh menilai, pemukim melakukan hal tersebut dengan maksud menguasai padang rumput di lembah utara. Area tersebut hendak mereka gunakan sebagai lahan pemukiman ilegal.

Ironisnya, dalam rentetan serangan yang terjadi, angkatan bersenjata Israel selaku pihak yang berwenang di sana justru tak pernah menangkap para pemukim. Mereka kerap kali memutar balikan fakta dan tanpa alasan yang jelas justru menangkap warga Palestina yang tidak bersalah.[]