2021, Yaman Tak Henti Hadapi Risiko Krisis Kemanusiaan

Konflik yang berlanjut dan bantuan internasional yang turun drastis krisis Yaman di tahun depan.

Anak-anak di Yaman mengalami busung lapar karena kekurangan makanan. Perang membuat harga bahan makanan tinggi dan sulit didapatkan. (ACTNews)

ACTNews, SANAA – Tahun 2021, Yaman kembali menghadapi tantangan internasional, sebagaimana dilaporkan Komite Penyelamatan Internasional (IRC). Wakil Koordinator Nutrisi IRC Abeer Fowzi menerangkan, kepada Al Jazeera, Yaman menghadapi sedikit dukungan dari komunitas internasional sekaligus tantangan yang sangat banyak secara bersamaan. 

“Dalam menghadapi ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya, dunia telah meninggalkan Yaman,” kata Fowzi, sebagaimana diterbitkan Al Jazeera pertengahan Desember lalu.

Menurut PBB, 80 persen dari 30 juta orang Yaman membutuhkan bantuan. Sekitar 13,5 juta orang Yaman saat ini menghadapi kerawanan pangan akut, termasuk 16.500 orang yang hidup dalam kondisi kelaparan.

Sementara itu, Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta Fore dalam pidatonya di agenda “Mencegah kelaparan di Yaman: Apa yang dapat kita lakukan sekarang dan pada 2021” menyatakan, Yaman sedang tertatih-tatih di tepi kehancuran total.

“Ini mungkin tempat paling berbahaya di dunia untuk seorang anak. Satu anak meninggal setiap 10 menit karena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Dua juta tidak bersekolah. Ribuan telah terbunuh, cacat, atau direkrut peperangan sejak 2015. Baru minggu lalu, 11 dilaporkan tewas, termasuk bayi berusia satu bulan,” kata Fore.

Ia mengatakan, pihaknya juga telah mengupayakan berbagai hal, antara lain merespons krisis nutrisi, meningkatkan respons terkait air dan kesehatan, memberikan pendidikan, konseling, dan bantuan tunai kepada keluarga. Namun, kebutuhan tumbuh lebih cepat dibanding bantuan yang datang. Ia pun berharap, di tahun berikutnya akses kemanusiaan diberikan lebih banyak kepada pelaku kemanusiaan.[]