25 Ribu Liter Air Bersih untuk Redam Kekeringan di Sigi

Pascagempa setahun lalu, sejumlah warga di Kabupaten Sigi mengalami kesulitan air bersih. Keadaan itu semakin sulit kemarau ini. Warga harus berjalan kaki hingga satu kilometer untuk mendapatkan air bersih.

25 Ribu Liter Air Bersih untuk Redam Kekeringan di Sigi' photo

ACTNews, SIGI Sejumlah desa di Kecamatan Sigi Biromaru dan Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah kini kesulitan air bersih. Warga harus rela mengantre dan berjalan kaki sekitar satu kilometer untuk mendapatkan air bersih tersebut. Kondisi itu disebabkan rusaknya irigasi Gumbasa akibat bencana alam pada 28 September silam. Kondisi itu pun diperparah oleh musim kemarau kali ini.

Sebagai upaya mengatasi krisis air bersih, Aksi Cepat Tanggap Sulawesi Tengah (ACT Sulteng) mendistribusikan 25.000 liter air bersih ke Desa Karawana, Soulowe, dan Desa Maranata, Kamis (22/8).

Menurut Kepala Cabang ACT Sulteng Nurmarjani Loulembah, dari hasil asesmen di lapangan, tiga desa tersebut sangat kesulitan air bersih. Warga di tiga desa ini harus mengantre beberapa lama demi mendapatkan air bersih.


“Pascagempa pada 28 September 2018 silam, tiga desa itu sudah mulai kesulitan air bersih. Ditambah lagi, saat ini musim kemarau membuat sumur warga tidak lagi menghasilkan air. Kedalaman sumur harus ditambah lagi,” kata Nurmarjani.

Salah seorang ibu rumah tangga di Desa Karawana, Fajria mengungkapkan kondisi warga yang semakin sulit mendapatkan air bersih saat kemarau ini.

“Sebelum gempa, kami mengambil air dari aliran irigasi Gumbasa dan sumur tetangga. Namun pascagempa dan musim kemarau saat ini, kami kesulitan air bersih sebab debit air dari sumur kami sudah mulai berkurang,” kata Fajria ketika mengantre air bersih, Kamis pagi (22/8).

Hal yang sama juga dirasakan oleh warga Dusun Lompio, Desa Maranata, Kabupaten Sigi. Hampir setahun terakhir, warga di desa itu kesulitan mendapatkan air bersih. 

Kedatangan dua armada tangki air ACT yang berisikan air disambut ratusan warga yang membawa jeriken maupun penampung air lainnya di Kompleks Gereja Bala Keselamatan.

Pendeta Bala Keselamatan Korps Lompio, Nirmo, mengaku jika jemaatnya sangat kesulitan air bersih.