30 Ribu Jiwa di Gaza Manfaatkan Bantuan Bahan Bakar dari Indonesia

Krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza membawa dampak buruk bagi warga Palestina. Salah satunya ialah terbatasnya pasokan bahan bakar.

30 Ribu Jiwa di Gaza Manfaatkan Bantuan Bahan Bakar dari Indonesia' photo
Relawan ACT di Palestina mengisi salah satu mesin menggunakan bahan bakar yang ACT Pasok. (ACTNews)

ACTNews, GAZA Terus berupaya membantu warga Gaza dalam pemenuhan kebutuhan bahan bakar, Aksi Cepat Tanggap (ACT) mendistribusikan 8.500 liter bahan bakar. Bantuan ini ditujukan bagi kendaraan operasional serta kendaraan pelayanan umum lainnya seperti truk sampah.

Pendistribusian 8.500 liter bahan bakar dari ACT ini dimanfaatkan oleh lebih dari 30 ribu jiwa warga Zawaidah. Bahkan, bahan bakar ini tak hanya untuk menjalankan kendaraan saja, tapi juga menghidupkan genset yang digunakan untuk listik warga.

Pendistribusian bahan bakar ini dilakukan di beberapa titik di wilayah Kota Zawaidah. Relawan-relawan ACT di Gaza, sambil menggunakan truk tangki bahan bakar, menyambangi titik-titik tersebut untuk menyuplai bahan bakar.

Andi Noor Faradiba dari tim Global Humanity Response (GHR) - ACT mengatakan, bahan bakar menjadi salah satu barang langka di Palestina, termasuk Gaza, akibat konflik dan blokade dari Israel. Lebih kurang 20 ribu penduduknya kini hidup dalam keadaan serba kekurangan. “Sistem ekonomi di Zawaidah lemah, pemerintah kota pun kewalahan untuk memenuhi kebutuhan, terlebih untuk fasilitas umum,” jelas Faradiba (31/12).

Sebelumnya, ACT juga pernah mengirimkan bantuan ke wilayah Zawaidah. Pada November 2019 lalu, ACT melakukan instalasi penerangan jalan. Dibantu oleh relawan ACT yang berada di sana, lampu bertenaga 125 dan 150 watt dipasang di jalan-jalan kota.

Selama ini, kondisi perekonomian di Palestina, tak terkecuali Zawaidah, mengalami keterpurukan. Blokade dari Israel menjadi penyebabnya. Sumber daya seperti bahan bakar dan listrik mengalami kelangkaan di sana. Belum lagi tingkat pengangguran yang tinggi serta rendahnya penerimaan pajak ke daerah.


Perserikatan Bangsa-Bangsa beberapa tahun pernah mengeluarkan peringatan bahwa pada tahun 2020 Jalur Gaza tak layak lagi ditinggali karena masalah keterbatasan air untuk konsumsi, listrik, pendidikan, hingga layanan kesehatan.[]


Bagikan