50 Tahun Muslim Tana Toraja Tidak Rasakan Daging Kurban

Pengalaman mengenal dan mengetahui kisah hidup muslim minoritas di Tana Toraja, mengingatkan tim Global Qurban untuk terus menebarkan kebahagiaan Iduladha kepada mereka yang membutuhkan.

50 Tahun Muslim Tana Toraja Tidak Rasakan Daging Kurban' photo

ACTNews, TANA TORAJA - Siapa yang tidak kenal Tana Toraja? Wilayah ini merupakan salah satu objek wisata Indonesia di Sulawesi Selatan. Tana Toraja bahkan dikenal oleh wisatawan mancanegara. Bukan hanya karena Tana Toraja menyimpan pemandangan yang indah, tetapi juga memiliki budaya dan kultur masyarakat yang kental. 

Namun sayangnya, kemasyuran Tana Toraja belum mampu membuat kehidupan masyarakatnya menjadi lebih baik. Seperti yang dialami sejumlah muslim yang tinggal di Desa Nanggala, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Bahkan saat Hari Raya Iduladha pun mereka terbiasa merayakannya hanya dengan melaksanakan salat Iduladha. 

“Sejak 50 tahun yang lalu, kami sudah tidak pernah lagi merasakan daging kurban,” ungkap Rusli Kadir, seorang tokoh agama Desa Nanggala pada Lebaran Kurban 2017 lalu. 

Selain Desa Nanggala, menanjak lebih ke atas, juga terdapat Desa Bone Buntu Sisong yang dihuni oleh muslim minoritas di Kabupaten Tana Toraja. Kala itu, populasi muslim di Desa Nanggala tidak melebihi angka 15 persen dari total penduduk, yakni hanya sekitar 70 keluarga. 

Letaknya yang berada di puncak gunung pun membuat muslim Desa Bone Buntu Sisong tidak dapat menjangkau masyarakat luas, sebab akses jalan amatlah sulit. Kondisi tersebut juga terbawa ketika perayaan Iduladha, mereka mengaku baru dua kali merasakan nikmatnya daging kurban. Itu pun mereka dapat dari sesama muslim yang tinggal di Kota Makale Selatan. 

“Terkait dengan pelaksanaan Iduladha, masyarakat di sini memang tidak pernah melaksanakan pemotongan hewan secara langsung karena terkendala lokasi yang sangat terpencil,” kata Herman Tahir selaku Pembina Masyarakat Desa Bone Buntu Sisong, Tana Toraja. 


Untuk Desa Nanggala dan Desa Bone Buntu Sisong, Global Qurban Sulawesi Selatan pun pernah mengantarkan kebahagiaan kurban saat perayaan Iduladha 2017. Alhamdulillah, upaya Global Qurban kala itu membuahkan ucapan syukur dari muslim minoritas di Tana Toraja yang merasakan nikmatnya daging kurban di tengah keterbatasan hidup mereka. 

“Kami sangat berterima kasih atas upaya yang telah tim Global  Qurban tempuh. Kalian rela naik turun bukit, bahkan gunung, demi mengantarkan daging kurban ini untuk kami. Terima kasih Global Qurban, terima kasih saudara semua,” tutur Herman. 

Kembali ke Tana Toraja

Pengalaman mengenal dan mengetahui kisah hidup muslim minoritas di Desa Nanggala dan Desa Bone Buntu Sisong, Global Qurban pada 2018 pun kembali menyambangi Tana Toraja. Giliran Desa Sangbua, Tana Toraja, Sulawesi Selatan yang menerima kebaikan kurban. Sedikitnya ada 70 keluarga muslim minoritas Desa Sangbua dapat merasakan nikmatnya daging kurban. 

Kisah hidup muslim minoritas Desa Sangbua serupa dengan mereka yang tinggal di Desa Nanggala dan Desa Bone Buntu Sisong. Mereka penuh dengan keterbatasan. Bahkan di Desa Sangbua tidak ada fasilitas pendidikan. Sekolah terdekat jarak tempuhnya bisa sampai 1,5 jam berjalan kaki, melewati pegunungan dan lereng yang curam.