700 Hunian untuk Pengungsi Sulteng Rampung Dibangun

700 Hunian untuk Pengungsi Sulteng Rampung Dibangun

ACTNews, PALU – Seluruh unit di enam kompleks Hunian Nyaman Terpadu Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Palu, Sigi, dan Donggala siap dihuni. Hal itu disampaikan Koordinator Pembangunan Integrated Community Shelter (ICS) Dede Abdul Rohman pada Kamis (20/12). Dede menjelaskan, total hunian yang dibangun mencapai 700 unit. Per Rabu (19/12), penggarapan keenam kompleks hunian telah diselesaikan sepenuhnya.

“Semua pembangunan shelter telah rampung dan sebagian besar warga sudah mulai menempati,” lapor Dede, Jumat (21/12).

Keenam kompleks ICS-ACT tersebar di tiga daerah terdampak gempa, tsunami, dan likuefaksi di Sulawesi Tengah. Dua kompleks ICS berada di Kelurahan Duyu dan Kelurahan Buluri, Kota Palu. Tiga ICS berada di Kabupaten Sigi, masing-masing berada di Desa Sibalaya Utara, Kecamatan Tanambulava, Desa Lolu di Kecamatan Sigi Biromaru, dan Desa Soulowe di Kecamatan Dolo. Sedangkan di Kabupaten Donggala ICS berada di Desa Wani, Kecamatan Tanantovea.

Hunian Nyaman Terpadu (ICS) merupakan hunian pengganti bagi masyarakat terdampak bencana yang kehilangan tempat tinggal sebelum mereka mempunyai hunian permanen. Di Palu, Sigi, dan Donggala ICS dilengkapi fasilitas penunjang seperti MCK, masjid, dapur umum, sekolah darurat, dan taman bermain anak.

Salah satu kompleks ICS terlengkap terletak di Desa Lolu, Kecamatan Sigibiromaru, Kabupaten Sigi. Selain fasilitas penunjang pada umumnya, ICS Desa Lolu juga dilengkapi ACT Humanity Store (AHS). Di lapangan bola milik desa itu kini berdiri 140 unit hunian untuk 140 KK yang terdampak gempa.

Sementara itu, satu kompleks ICS tengah dirampungkan ACT di jalan Munif, Kota Palu. “Tim relawan konstruksi ada 50 orang dan pengerjaan sudah mencapai 75 persen. Jadi, total semua ada 7 kompleks ICS,” terang Dede.

Bukan hanya ICS, ACT juga membangun sejumlah Family Shelter untuk keluarga terdampak tsunami di Kota Palu. “Sepuluh Family Shelter yang dibangun di jalan R.E. Martadinata juga sudah kami rampungkan,” pungkasnya.

Selama berbulan-bulan, para korban terdampak bencana di Sulawesi Tengah yang tidak lagi memiliki hunian tinggal di tenda-tenda pengungsian. Sebagian dari mereka mendirikan tenda di lahan bekas bangunan rumah mereka ataupun pergi ke pengungsian komunal tempat-tempat tertentu.[]