811 Juta Orang Di Dunia Menghadapi Kerawanan Pangan

Hari Pangan Sedunia menjadi renungan bahwa masih ada saudara kita yang kelaparan dan belum mampu memenuhi kebutuhan pangan yang layak. Hingga 2021, diperkirakan sekitar 720 hingga 811 juta orang di dunia masih menghadapi kerawanan pangan dan kekurangan gizi.

hari pangan sedunia
Ilustrasi. Kerawanan pangan masih terjadi di berbagai belahan dunia. (Dokumen istimewa)

ACTNews, JAKARTA – Hari Pangan Sedunia diperingati setiap tanggal 16 Oktober. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, Hari Pangan Sedunia mengusung berbagai tema dalam perayaan. Tema-tema tersebut memiliki latar belakang permasalahan dalam bidang pangan yang membutuhkan perhatian dunia.

Pada tahun ini, tema yang diambil oleh Food and Agriculture Organization (FAO) adalah "Our actions are our future-Better production, better nutrition, a better environment and a better life". Dengan tema ini, FAO mengajak masyarakat untuk menjaga ketahanan pangan serta memelihara lingkungan dengan menerapkan sistem produksi pangan yang berkelanjutan dan memberi dampak positif pada lingkungan.

Perlu disadari pula, bahwa Hari Pangan Sedunia bukan hanya tentang merayakan makanan yang kita nikmati, tetapi juga tentang meningkatkan kesadaran bahwa masih banyak orang yang tidak bisa menikmati keistimewaan ini.

Kesenjangan sangat terasa ketika sebagian besar populasi dapat menikmati makanan apa pun yang mereka inginkan tanpa berpikir dua kali, sementara yang lain masih berjuang untuk meletakkan makanan di atas meja makan.

Masih banyak masyarakat dunia yang menderita kelaparan, dan sejumlah negara juga dilanda kasus kerawanan pangan yang tinggi. Berdasarkan data dari The State of Food Security and Nutrition in the World (SOFI), yang dibuat oleh organisasi kemanusiaan dunia dari berbagai bidang seperti FAO, IFAD, UNICEF, WFP dan WHO, dunia secara umum belum mengalami kemajuan, baik dalam memastikan akses ke pangan yang aman, bergizi, dan cukup bagi semua orang sepanjang tahun.

Diperkirakan, pada 2021 ini, antara 720 dan 811 juta orang di dunia masih menghadapi kerawanan pangan dan kekurangan gizi. Angka tersebut naik 118 juta lebih banyak dibanding tahun 2019. Lonjakan kasus, diperkirakan karena merebaknya pandemi Covid-19. Hal tersebut bisa dilihat karena selama 2014 hingga 2019 (masa sebelum Covid-19 menyebar), peningkatan jumlah kasus kelaparan cenderung statis atau tidak terlalu tinggi.

"Pandemi Covid-19 berdampak buruk pada ekonomi dunia. Kondisi itu memicu resesi yang belum pernah terjadi sebelumnya-tidak terlihat sejak Perang Dunia Kedua. Status ketahanan pangan dan gizi jutaan orang, termasuk anak-anak, akan memburuk jika kita tidak mengambil tindakan cepat. Pandemi terus mengekspos kelemahan dalam sistem pangan kita. Kondisi itu mengancam ketahanan pangan dan gizi jutaan orang di seluruh dunia," terang laporan yang diterbitkan awal Oktober tersebut.

Peningkatan kasus tertinggi terjadi di benua Asia, dengan total 418 juta kasus kerawanan pangan, disusul Afrika dengan 218 juta kasus. Sementara negara-negara di Amerika Latin dan Karibia, angkanya meningkat 14 juta kasus, sehingga totalnya menjadi 60 juta kasus pada tahun ini.

"Hampir satu dari tiga orang di dunia tidak memiliki akses ke makanan yang cukup pada tahun ini. Sementara prevalensi global kerawanan pangan dengan tingkat sedang atau berat, telah perlahan meningkat sejak 2014, perkiraan peningkatan pada tahun ini sama dengan lima tahun sebelumnya digabungkan," tulis laporan tersebut.[]