87 Ribu Warga Mali Mengungsi Sejak Januari

87 Ribu Warga Mali Mengungsi Sejak Januari

87 Ribu Warga Mali Mengungsi Sejak Januari' photo

ACTNews, MALI – Konflik dan kekerasan yang semakin meningkat sejak Januari 2019 membuat 87.000 warga di Mali Utara dan Mali Tengah dipindahkan secara paksa. Selain itu, penyebaran kelompok-kelompok bersenjata juga meningkat serta operasi militer semakin intensif. Tahun lalu, lebih dari 71.000 orang terlantar di Mali Tengah dan Mali Utara. Reliefweb melaporkan, krisis kemanusiaan di Mali berdampak ke lebih dari tujuh juta orang.

“Sejak awal tahun, lebih dari 400 warga sipil tewas di Mali Tengah dan Mali Utara. Sebagai perbandingan, total 287 warga sipil tewas pada tahun 2018,” ujar Tidiane Fall, salah satu agen kemanusiaan internasional, sebagaimana dilaporkan Reliefweb.

Data Komisi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) per 31 Maret 2019 menunjukkan, 58,348 atau 42,1 persennya mencari suaka ke Mauritania, sebagian besar lainnya ke Nigeria, dan sekitar 17 persen lain mencari suaka ke Burkina Faso. Sementara, menurut data pemerintah, seperti yang ditunjukkan UNHCR, sebanyak 135,589 orang menjadi pengungsi internal di Burkina Faso, lebih dari 84 ribu orang berada di Mali, dan 62 ribu lainnya berada di Niger.

“Beberapa orang dibunuh dengan keji di depan mata saya. Ternak kami dibiarkan kabur, sejumlah orang di komunitas berada di hutan. Kami tidak memiliki akses untuk ke pasar dan pusat kesehatan karena tak seorang pun yang berani dan takut dibunuh,” kata seorang laki-laki bernama Hamidou yang menjadi pengungsi setelah kekerasan terjadi di N'tillit Selatan, Distrik Gao, seperti dikabarkan Reliefweb Kamis (11/4) lalu.

Mali telah mengalami ketidakstabilan dan konflik sejak kudeta militer 2012. Akibat krisis keamanan, berdasarkan data World Bank Januari 2019, tingkat kemiskinan ekstrem di Mali meningkat dari 47,8 persen menjadi 50,4 persen antara 2011 dan 2013. Namun, berkat produksi pertanian yang tinggi selama tiga tahun sebelumnya, angka tersebut turun menjadi 42,7 persen pada 2017.

Pada tahun yang sama, dalam hal keamanan, Human Right Watch menyebutkan, setidaknya 23 penjaga perdamaian PBB dengan Misi Stabilisasi Terintegrasi Multidimensi di Mali (United Nations Multidimensional Integrated Stabilization Mission in Mali/MINUSMA) terbunuh dan 103 terluka dalam serangan oleh kelompok-kelompok bersenjata pada tahun 2017. []

Sumber foto: Reliefweb, The Guardian

Bagikan