90 Tahun Hidup di Lereng Merapi, Mbah Tumi Akhirnya Mengungsi

Mbah Tumi (90), akhirnya memutuskan untuk mengungsi setelah bermukim di sana selama hidupnya meski beberapa kali Gunung Merapi erupsi. Bersama ratusan warga lainnya, Mbah Tumi kini berada di pengungsian di Desa Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang.

Mbah Tumi (90), warga Dusun Babadan, Kelurahan Krinjing, Kecamatan Dukun, akhirnya memutuskan untuk mengungsi untuk menghindari kemungkinan Merapi yang erupsi sewaktu-waktu. (ACTNews/Wahyu Eko Winarso)

ACTNews, MAGELANG - Aktivitas Gunung Merapi pada Sabtu (14/11) belum menunjukkan penurunan. Oleh karena itu pemerintah melalui Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTG) masih menetapkan status Siaga. Sejak saat itu pula masyarakat yang berada di radius 5 kilometer dari puncak gunung diimbau mengungsi oleh pemerintah.

Berdasarkan asesmen tim Aksi Cepat Tanggap dan Masyarakat Relawan Indonesia Jawa Tengah, sebagian warga yang mengungsi adalah anak-anak, ibu hamil, dan lansia. 

Ada cerita menarik dari pengungsi yang rumahnya berada di radius 5 kilometer dari puncak Merapi. Ialah Mbah Tumi (90), yang akhirnya memutuskan untuk mengungsi setelah bermukim di sana selama hidupnya meski beberapa kali Gunung Merapi erupsi. Bersama ratusan warga lainnya, Mbah Tumi kini berada di pengungsian di Desa Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang.

Berasal dari Dusun Babadan, Kelurahan Krinjing, Kecamatan Dukun, Mbah Tumi selama ini memilih tinggal di rumah bersama suaminya, Mbah Turut. “Dulu waktu letusan besar tahun 2010, suami saya tetap tidak mau mengungsi, sudah diajak sanak saudara sampai perangkat desa datang ke rumah juga tidak mau,” ungkap Mbah Tumi.

Kala itu Mbah Turut bersikukuh tinggal di rumahnya bukan tanpa alasan. Ia  masih ingin bekerja seperti biasa. “Masih tetap di sawah seperti biasa. Katanya kalau terkena letupan Merapi ya hanya pasrah sesuai kehendak Yang Kuasa,” imbuh Mbah Tumi.

Namun kini berbeda, sejak Mbah Turut meninggal 3 tahun lalu. “Di rumah sudah tidak ada suami, jadi kemarin diajakin saudara mengungsi saya manut aja. Kalau bisa saya pengen bisa segera pulang,” ucap Mbah Tumi lirih.

Mbah Tumi bukan satu-satunya lansia dalam pengungsian kali ini, berdasarkan data di lapangan ada 179 lansia yang terdata. Sementara itu, total pengungsi di Kabupaten Magelang mencapai 815 jiwa, tersebar di Kecamatan Muntilan, Dukun, Mungkid, dan Mertoyudan.

Tim ACT dan MRI pun masih mendampingi para pengungsi di Kabupaten Magelang dengan memberikan bantuan kemanusiaan yang ada. Komandan Posko MRI Magelang Raya Saiful mengungkapkan, kesiapan logistik dan Alat Pelindung Diri (APD) yang tengah didistribusikan untuk pengungsi dan relawan. “Koordinasi lintas lembaga juga masih terus dilakukan. Dalam setiap aktivitas para relawan juga kita imbau agar tertib protokol kesehatan,” pungkas Saiful.[]