Abah Udin Mengajar Ngaji di Bekas Kandang Kambing

Abah Udin rela meninggalkan pekerjaannya sebagai pengelola perkebunan tebu untuk mengajar mengaji anak-anak kampung. Meski harus mengajar di bekas kandang kambing dan tidak dibayar, Abah Udin tetap istikamah sampai sekarang.

mengajar di kandang kambing
Abah Udin tampak mengajar mengaji anak-anak di gubuk bekas kandang kambing. (ACTNews/M. Ubaidillah)

ACTNews, CIREBON – Gubuk bambu berukuran 2,5x5 meter berdiri di atas sungai yang airnya mengering di Desa Jatiseeng Kidul, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon. Terdengar sayup-sayup suara anak-anak mengaji dari dalam gubuk, bersahutan dengan suara sepeda motor yang melewati jalan di depannya. 

Anak-anak berkerudung dan berpeci bergantian keluar masuk gubuk, sambil memeluk Al-Qur’an dan buku iqro. Beberapa terlihat diantar orang tua. Suasana ini terjadi setiap hari, mulai pukul 14.00 sampai menjelang azan magrib. 

“Sudah tujuh tahun tempat ini (gubuk) dijadikan tempat mengaji,” kata satu-satunya guru mengaji di gubuk tersebut Ustaz Zainudin (73) atau biasa disapa Abah Udin, Rabu (13/10/2021). 

Ia adalah sarjana Bahasa Arab. Abah Udin mengaku, sebagai orang yang pernah belajar ilmu agama, ia merasa bersalah jika anak-anak di desa tidak ada yang membimbing agama.

Siapa sangka, sebelum dijadikan tempat mengaji, gubuk yang terbuat dari bambu itu adalah kandang kambing milik Abah Udin. Sebelum dijadikan tempat mengaji, kandang kambing sempat terbengkalai. 

Abah Udin tidak serta merta mengajar ngaji di kandang kambing. Dulu, ia mengajar di rumahnya, namun karena  banjir bandang aktivitas mengaji perlu tempat pengganti, yaitu di gubuk bekas kandang kambing yang sempat terbengkalai. Abah Udin mengungkapkan, beberapa kali tempat pengajian kembali pindah ke rumah. Namun anak-anak tidak betah, akhirnya kembali lagi ke gubuk. Saat ditanya ACTNews kenapa betah mengaji di gubuk, padahal bau sampah, anak-anak tegas menjawab: “adem”. 


Abah Udin sedang membimbing anak-anak mengaji. (ACTNews/M. Ubaidillah)

“Saya ikut maunya anak-anak saja. Yang penting mereka senang dan mau datang mengaji,” ujar bapak tiga anak itu.

Mengajar mengaji setiap hari sudah Abah Udin lakukan sejak tahun 1994. Sebelumnya hanya seminggu sekali. Ini terjadi karena pekerjaan Abah Udin sebagai penggarap lahan tebu di sekitar Cirebon cukup menyita waktu. 

“Mungkin saya dapat teguran dari Allah agar tidak meninggalkan mengajar mengaji. Saat itu tebu dua kali berturut-turut terbakar dan gagal panen, uang hasil kebun cepat habis tidak tersisa. Akhirnya pekerjaan itu saya tinggalkan dan fokus ngajar ngaji,” jelas Abah Udin. 

Sembari fokus mengajar mengaji, Abah Udin memelihara kambing, membersihkan rumput di tanah orang, atau menjadi buruh tani. Sekali kerja, Abah Udin dibayar Rp50 ribu. “Ini bekas kandangnya, kambingnya sudah habis,” kelakar Abah Udin. 


Gubug bekas kandang kambing tempat Abah Udin mengajar mengaji tampak dari belakang. (ACTNews/M. Ubaidillah)

Meski hidup sederhana, Abah Udin bersyukur karena masih bisa berbagi. Setiap malam Jumat selalu istri Abah Udin, Nurhalati memasak makanan untuk disantap bersama. Anak-anak yang mengaji pada Abah Udin juga tidak dipungut biaya.

Nurhalati mengatakan suaminya hanya ingin hidup memberikan manfaat bagi orang sekitarnya. Sehingga ia meninggalkan pekerjaannya.  “Abah hanya ingin anak-anak bisa ngaji. Jangan sampai meninggal tapi tidak memberikan manfaat untuk sekitar,” jelasnya.[]