ACT dan Drw Skincare Hadirkan Sanitasi untuk Penyintas Gempa Maluku

Sebanyak 5 unit MCK dibangun di beberapa titik pengungsian di Maluku Tengah. Hingga kini, beberapa warga masih takut untuk kembali ke rumahnya dan tinggal di pengungsian dengan fasilitas sanitasi yang minim.

ACT dan Drw Skincare Hadirkan Sanitasi untuk Penyintas Gempa Maluku' photo
Proses pembangunan salah satu MCK. Keseluruhan pembangunan kini telah mencapai 30 persen. (ACTNews)

ACTNews, MALUKU TENGAH Pemulihan pascabencana gempa di Maluku terus berlangsung. Aksi cepat Tanggap (ACT) Maluku bersama Drw Skincare berkolaborasi membangun MCK untuk para penyintas gempa di Maluku.

Lima unit MCK dibangun di beberapa titik pengungsian di Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah. Dua unit MCK berada di Dusun Angker dan Dusun Attawai di Desa Waai. Sementara 3 titik lainnya dibangun Dusun Waihula, di Dusun Wa, dan Puncak Bumbun yang masuk wilayah Desa Liang.

Sance, salah satu penyintas gempa di Desa Waai, mengungkapkan terima kasihnya kepada Tim ACT bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI).

“Beta  mewakili para pengungsian di Desa Waii, berterima kasih kepada tim ACT dan MRI, serta para dermawan semuanya yang masih terus membantu kami di tempat pengungsian dengan mendirikan MCK. Katong (kita) tidak akan merasa kesulitan ketika mau buang air, mandi dan mencuci di tempat penggungsian lagi,” ujar Sance.


Salah satu pengungsian penyintas gempa Maluku. (ACTNews)

Sudah empat bulan para korban gempa masih berada di kamp pengungsian dengan berbagai keterbatasan. Mulai dari pangan, air bersih, hingga fasilitas sanitasi. Muhammad Syamsudi Mahu dari Tim Program ACT Maluku menuturkan, bahkan untuk sanitasi mereka mesti berjalan dahulu sejauh satu kilometer.

“Untuk mandi dan buang air besar para pengungsian sangat sulit. Mereka harus ke kampung mereka yang berjarak satu kilometer dari kamp pengungsian di atas puncak. Sehingga,  kami dari ACT Maluku membuat 5 unit sanitasi untuk para pengungsian di Desa Liang serta di Desa Waii. Harapannya ini dapat membantu warga untuk kebutuhan sanitasinya,” kata Syamsudi. Ia juga menjelaskan proses pembangunan MCK saat ini telah mencapai 30 persen.

Seperti yang telah dilaporkan pada 14 November 2019 lalu, gempa bermagnitudo 7,1 mengguncang Maluku Utara. Guncangan yang antara lain dirasakan di Bitung, Manado, Gorontalo, Ternate, dan Buol itu menyebabkan sejumlah kerusakan.

Setelahnya, gempa susulan terus terjadi hingga membuat masyarakat takut dan tinggal di pengungsian. Dalam rentang waktu 92 hari setelah gempa atau 26 Desember 2019 lalu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Ambon yang mengungkapkan 2.832 kali gempa susulan mengguncang Maluku dengan 314 kali yang dapat dirasakan manusia. Oleh karenanya hingga kini, beberapa warga bahkan masih ada yang mengungsi dan belum kembali ke rumahnya. []


Bagikan