ACT dan MRI Patenkan Akademi Relawan Indonesia

ACT dan MRI Patenkan Akademi Relawan Indonesia

ACT dan MRI Patenkan Akademi Relawan Indonesia' photo

ACTNews, YOGYAKARTA - Sudah 13 tahun bergulir, Aksi Cepat Tanggap (ACT) memberikan sumbangsih dan kontribusinya bagi negeri, utamanya dalam setiap aksi kemanusiaan merespons bencana alam di Indonesia. Dalam setiap aksinya, ACT bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) tak luput berkolaborasi untuk memberikan respons yang cepat dan tanggap. Kini, menjelang kuartal akhir tahun 2018, langkah baru ACT dan MRI hadir di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam bentuk Akademi Relawan Indonesia (ARI). 

Kawasan Akademi Relawan Indonesia (ARI) terletak di kaki Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Kemput, Desa Hargobinangun, Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berawal dari kompleks Integrated Community Shelter bagi korban erupsi Merapi tahun 2010 silam, ACT dan MRI mengubah fungsinya dan mematenkan menjadi kawasan Akademi Relawan Indonesia, Ahad (28/10). 

Vice President Volunteer Network ACT Ibnu Khajar memaparkan, keberadaan ARI adalah salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas relawan yang akan terjun ke berbagai persoalan di masyarakat. Tak hanya itu, ARI juga akan menjadi arena pembelajaran relawan yang bakal menjadi agen untuk menghadirkan solusi bagi persoalan umum di masyarakat.

“Jadi ARI menjadi tempat untuk menyampaikan best practice-nya ACT sebagai pembelajaran. Dengan demikian, ACT dapat menurunkan pengalamannya kepada relawan. Sehingga mereka bisa melakukan segala aktivitas ACT,” kata Ibnu.  

Lebih lanjut, Ibnu menjelaskan, pendidikan di ARI akan dibagi menjadi tiga tahap yakni Pendidikan Dasar (Diksar), Pendidikan Menengah (Dikmen), dan Pendidikan Khusus (Diksus). Konsep ARI nantinya akan dilaksanakan beberapa periode setiap pendidikannya; Diksar setiap bulan, Dikmen tiga bulan sekali, dan Diksus enam bulan sekali.

“Sehingga setiap tahunnya ARI akan melahirkan 1.200 orang lulusan Diksus, 400 orang lulusan Dikmen, dan 100 orang lulusan Diksus. Setiap pendidikan akan berperan di tingkatan profesionalnya masing-masing. Misal, Diksar akan menjadi implementator, Dikmen akan menjadi komandan posko wilayah, dan Diksus akan menjadi komandan posko induk,” jelasnya.

Cakupan ilmunya pun terbagi menjadi dua bidang, disaster management dan social development. Ilmu disaster management berkolaborasi dengan Disaster Management Intitute of Indonesia (DMII) - ACT sebagai trainer support, sedangkan Disaster Emergency Response Management (DERM) - ACT sebagai pengguna (user).

Nah, setelah mengikuti pendidikan dengan tim DMII di ARI, relawan akan mendapat tugas ke lapangan yang dibina oleh DERM. Di sana, mereka akan dinilai sesuai bidang dan tingkatannya. Apabila memenuhi, mereka akan kebali diundang untuk mengikuti pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi,” tambahnya.  

Selain relawan tanggap bencana, ARI juga akan memberikan berbagai latihan pemberdayaan masyarakat (social development) kepada relawan. "Dari ARI, insya Allah akan membentuk relawan yang siap terjun ke masyarakat untuk melakukan pendampingan. ARI akan meningkatkan kesejahteraan mereka dan mengasah kepekaan terhadap lingkungan sosialnya," jelas Ibnu. 

Di sisi lain, Andri Perdana selaku Kepala ARI mengatakan, Yogyakarta sendiri memiliki potensi bencana alam yang kompleks. Memulai ide dari sana, relawan perlu mempelajari dan mempersiapkan segala bentuk mitigasi kebencanaan seperti gempa bumi, erupsi gunung berapi, banjir, kekeringan, angin puting beliung, kebakaran, dll.

Dengan begitu, Andri menambahkan, momentum Akademi Relawan Indonesia akan memberikan pesan bahwa, relawan memiliki semangat persatuan, kepemudaan, dan kepahlawanan yang hadir dalam aksi-aksi kemanusiaan. “Kami berharap masyarakat yang berada di sekitar ARI maupun seluruh masyarakat Indonesia bisa merasakan manfaat dari ARI,” pungkasnya. []

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan