ACT Jatim Maksimalkan Evakuasi Korban Longsor Nganjuk

Belasan relawan rescue MRI-ACT Jawa Timur diterjukan untuk membantu proses evakuasi korban longsor di Nganjuk. Posko relawan juga didirikan untuk memudahkan aktivitas para relawan dalam proses evakuasi.

act evakuasi longsor nganjuk
Tim Masyarakat Relawan Indonesia Jawa Timur mengeluarkan peralatan penunjang evakuasi korban longsor di Nganjuk, Kamis (18/2/2021). (ACTNews)

ACTNews, NGANJUK - Longsor yang terjadi di Dusun Selopuro, Desa Ngetos, Kabupaten Nganjuk menelan 19 korban jiwa dan 11 KK tertimbun longsoran tanah. Hingga Kamis (18/2/2021) tercatat 18 jenazah berhasil ditemukan dan 1 korban hilang masih belum berhasil ditemukan. Tidak hanya longsor, Nganjuk juga diterjang banjir di berbagai wilayahnya.

Sebanyak 19 relawan MRI-ACT dari Surabaya, Sidoarjo, Malang, Madiun, Kediri, Nganjuk dan Bojonegoro diterjunkan ke Nganjuk. Para relawan dibagi menjadi 2 tim, yakni tim evakuasi  banjir dan longsor dan tim posko bencana. Posko relawan bencana banjir Nganjuk sendiri berlokasi di Jl. Ahmad Yani RT. 5 RW 1, Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Nganjuk. 

“Para relawan yang bertugas merupakan relawan dengan keahlian rescue, medis, dan manajemen posko. Mereka dilengkapi APD lengkap, seperti helm, sepatu safety, sarung tangan, kacamata, masker, dan pelampung. Mereka juga membawa peralatan penunjang lapangan, misalnya sekop, alkon (alat penyedot air), kantong jenazah, perahu karet, dan cangkul. Evakuasi menjadi fokus aksi kami saat ini karena warga sangat membutuhkannya,” jelas Dipohadi dari Tim Program ACT Jawa Timur, Kamis (18/2/2021).

Head of Volunteer MRI Surabaya Heri Setiawan, menambahkan bahwa dalam proses evakuasi, alat berat turut digunakan untuk membuka akses jalan. “Alat berat yang ada di antaranya 5 unit ekskavator. Ada juga 5 anjing pelacak dari SARDog Jatim dan K9 Kepolisian. Anjing pelacak ini diterjunkan pada pagi hari untuk mencium bau jenazah. Dari lokasi yang ditemukan anjing pelacak kemudian digali oleh ekskavator, yang selanjutnya dilanjutkan secara manual oleh relawan menggunakan sekop dan cangkul,” terang Heri.

Ia menjelaskan, proses evakuasi harus segera diselesaikan sebelum hari ke-10, sebab setelahnya jenazah akan sulit ditemukan. Usai evakuasi, tim akan berlanjut ke fase pemulihan. “Masa pemulihan adalah masa yang paling lama. Langkah pertama yang akan dilakukan adalah analisis lapangan wilayah sekitar tanah longsoran, lalu pembukaan akses akibat material longsoran dari bebatuan dan tanah, hingga pendampingan masyarakat. Masyarakat tidak boleh masuk dahulu ke lokasi hingga waktu dianggap aman. Masa pemulihan biasanya 3 bulan, sambil evaluasi apakah ada pergerakan tanah. Jika ada pergerakan tanah warga bisa jadi tidak boleh lagi tinggal di lokasi tersebut,” pungkas Heri. []