ACT Pasaman Barat Serahkan Santunan untuk Keluarga Almarhum Radia Tono

Radia Tono (47) merupakan pasien MSR-ACT yang tengah mendapatkan pendampingan serta penggalangan dana untuk menyembuhkan penyakitnya. Tapi sayang, takdir berkata lain. Beberapa waktu lalu Radia wafat, sehingga dana yang telah terkumpul tetap disalurkan sebagai santunan untuk keluarga yang ditinggalkan.

act pasaman barat
Serah terima santunan ACT Pasaman Barat kepada pihak keluarga Radi Tono. (ACTNews/Agusriadi)

ACTNews, PASAMAN BARAT – Ditemani Kepala Jorong Pondok, Kecamatan Sasak Ranah Pasisie, Kabupaten Pasaman Barat, Aksi Cepat Tanggap (ACT) menyerahkan santunan dari program Mobile Social Rescue (MSR) untuk keluarga Almarhum Radia Tono pada pekan ketiga Agustus ini. Santunan ini berasal dari dermawan yang telah menyalurkan kepeduliannya melalui ACT Pasaman Barat.

Penyaluran dana tersebut sebenarnya lebih awal dari jadwal yang sudah direncanakan. Hal tersebut karena Radia Tono yang merupakan pasien pendampingan MSR-ACT Pasaman Barat sudah wafat beberapa waktu lalu. Sehingga, dana yang sudah terkumpul tetap disalurkan sebagai santunan serta membantu ekonomi keluarga yang ditinggalkan.

“Kami sudah semaksimal mungkin menggalang kepedulian untuk Almarhum Pak Radia Tono untuk membantu biaya pengobatan. Tapi sebelum semua agenda terealisasi, tampaknya Allah lebih sayang kepada Pak Radia, sehingga dana yang sudah terkumpul kami serahkan ke ahli waris sebagai bentuk dukungan, biaya pelunasan utang Pak Radia jika masih ada, serta modal perbaikan ekonomi keluarga yang ditinggalkan,” jelas Gatoet Kesuma, Kepala Cabang ACT Pasaman Barat.

Perlu diketahui, Radia Tono (47) merupakan salah satu pasien pendampingan MSR-ACT Pasaman Barat yang mengalami kebutaan selama 13 tahun serta pembengkakan di leher yang membuatnya sulit beraktivitas, termasuk untuk makan dan minum hingga bicara. Radia sempat mendapatkan pemeriksaan medis di Kota Padang dengan dana yang berasal dari iuran keluarga dan tetangganya. Akan tetapi, belum diketahui dengan pasti apa penyakit yang muncul di lehernya, sehingga keluarga mengatakan bahwa kondisi tersebut karena tumor.

Sayang, biaya yang terbatas membuat perawatan medis yang lebih maksimal tak bisa didapatkan. Radia hanya bertahan dengan bantuan dari keluarga dan tetangga. Untuk memenuhi nutrisi tubuhnya, Radia hanya mengonsumsi susu yang diberikan oleh dermawan.

“Sebenarnya untuk menelan susu juga susah, sakit. Tapi saya tetap usaha meminumnya karena itu diberikan dari iuran orang-orang sekitar,” ungkap Radia kepada tim ACT sebelum wafat.[]