ACT Serahkan Rumah Sakit Darurat di RSUP NTB

ACT Serahkan Rumah Sakit Darurat di RSUP NTB

ACTNews, MATARAM – Pascagempa yang melanda Lombok beberapa waktu lalu, menyisakan dampak kerusakan infrastruktur umum yang tidak sedikit. Rubuhnya masjid, hancurnya bangunan sekolah, hingga kerusakan pada bangunan rumah sakit. Tak sedikit pula penyintas gempa Lombok yang mengaku masih memendam trauma mendalam ketika singgah di lantai tinggu sebuah bangunan, termasuk bangunan rumah sakit. 

Melanjutkan pemulihan untuk Lombok, Aksi Cepat Tanggap (ACT) masih tetap berada di Lombok menuntaskan pembangunan sejumlah bangunan, mulai dari rumah sementara, masjid, hunian terintegrasi (Integrated Community Shelter), juga membangun rumah sakit darurat yang berada di Kompleks Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi (RSUP) NTB.

Berlokasi di RSUP NTB di Kota Mataram, satu unit bangunan rumah sakit darurat disumbangkan oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil melalui ACT. Jumat (5/10) kemarin, Tim ACT untuk Pemulihan Pascagempa menyatakan, bangunan rumah sakit darurat sudah selesai dan bisa digunakan.

Pada acara serah terima yang dilakukan ACT bersama RSUP NTB, Jumat (5/10) kemarin. Kepala Cabang ACT NTB, Lalu Muhammad Alfian menyampaikan ungkapan syukurnya. Ia mengatakan selama ini warga korban gempa yang kesulitan mendapat tempat perawatan, akhirnya dapat difasilitasi dengan sebuah rumah sakit yang lebih baik dari tenda-tenda.

“Alhamdulillah sekali. Rumah sakit darurat ini pun selesai. Jadi warga yang selama ini masih trauma dirawat di ruangan, bahkan di lantai atas, bisa lebih tenang. Karena ruangan ini tahan gempa,” paparnya.

Nantinya, ruangan ini akan dilengkapi dengan beberapa perlengkapan medis, sehingga dapat memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang saat ini masih dirawat di tenda-tenda darurat.

Sementara itu, Direktur RSUP NTB, dr H Lalu Hamzi Fikri menyampaikan ucapan terima kasih kepada ACT, yang selama ini banyak membantu masyarakat NTB. Baik dalam pemberian logistik, ataupun penanganan kesehatan dalam tanggap darurat. Tim medis dari awal gempa sangat terbatas, merasa lebih terbantu dengan adanya kolaborasi pemerintah dan ACT.

“Ada pasien yang lebih memilih pulang, padahal belum sembuh benar. Karena takut gempa dan dirawat di lantai 3. Namun dengan adanya bangunan baru ini, tentu kekhawatiran pasien bisa diminimalisir,” ungkapnya.

Hamzi berharap, musibah Gempa ini tak terjadi lagi. Karena musibah ini masih menyisakan banyak PR bagi pemerintah, tak hanya untuk membangun infrastruktur saja, namun juga psikologis masyarakat yang trauma pasca gempa.

Oleh karena itu, beliau berharap ACT bersama pemerintah, bisa hadir tidak hanya membantu dalam hal penyediaan infrastruktur, namun juga berkolaborasi dalam hal penanganan psikologis masyarakat.

“Tentu kesehatan yang paling utama. Terlebih musim pancaroba ini. Berbagai macam penyakit menghantui masyarakat. Ini menjadi PR kita bersama. Tak hanya pemerintah dan ACT, juga seluruh elemen masyarakat. Agar sadar tentang bagaimana hidup sehat,” jelas dr H Lalu Hamzi. []