ACT Tasikmalaya Selenggarakan Pelatihan Manajemen Masjid

Kegiatan Pelatihan Manajemen Masjid dilaksanakan dengan tujuan mengembalikan peran masjid sebagai pusat peradaban umat Islam.

Kegiatan diisi langsung oleh pemateri dari Tim Manajemen Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. (ACTNews/Rima Yanti)

ACTNews, TASIKMALAYA - Aksi Cepat Tanggap (ACT) Tasikmalaya bersama Tim Manajemen Masjid Jogokariyan Yogyakarta menyelenggarakan Pelatihan Manajemen Masjid pada Sabtu (16/11) di Aula SMP Al Muttaqin Tasikmalaya. Acara ini dihadiri oleh 174 masjid dengan 280 takmir masjid se-Priangan Timur.

Kegiatan Pelatihan Manajemen Masjid dilaksanakan dengan tujuan mengembalikan peran masjid sebagai pusat peradaban umat Islam. Semangat itu juga yang ingin ditumbuhkan oleh ACT di tengah-tengah masyarakat, agar masjid dapat menjadi pusat kegiatan, ketenangan, dan peradaban bagi umat Muslim.

“Harapan kami, masjid menjadi tempat yang menenangkan bagi siapapun untuk belajar, berkegiatan dan menjadi pusat peradaban sekaligus menjadi penggerak juga solusi dalam membantu sesama,” kata Taufik selaku Kepala Cabang ACT Tasikmalaya.

Kegiatan diisi langsung oleh pemateri dari Tim Manajemen Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Para peserta mendapatkan pemaparan mengenai manajemen memakmurkan masjid, manajemen keuangan dan pemberdayaan ekonomi jemaah, serta literasi masjid sebagai peradaban umat.


Sambutan dari Kepala Cabang ACT Tasikmalaya kepada para peserta Pelatihan Manajemen Masjid. (ACTNews/Rima Yanti)

Masjid Jogokariyan sendiri tahun 2016 mendapat penghargaan sebagai masjid percontohan bidang idaroh (kemakmuran) oleh Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kementerian Agama. Maka dari itu, ACT Tasikmalaya melaksanakan kegiatan ini dengan harapan agar bentuk manajemen masjid yang diterapkan di Jogokariyan bisa diduplikasi oleh masjid-masjid di Priangan Timur.

Ustaz Welly selaku pemateri dari tim Manajemen Masjid Jogokariyan menyampaikan bahwa jemaah menjadi fokus dalam proses pengelolaan masjid. Ini maknanya bahwa manajemen masjid bukan hanya fokus pada fisik masjidnya saja, tetapi juga fokus pada pengembangan masyarakat di sekitarnya, “Kehadiran masjid seharusnya bisa menyejahterakan masyarakat ,bukan malah semakin membebani masyarakat,” ungkap Ustaz Welly.

Dalam kesempatan itu Ustaz Welly memberikan arahan kepada para peserta yang hadir untuk melayani kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Sehingga dengan itu, masyarakat dapat senang berada, berinteraksi, dan beraktivitas di dalam masjid. Ustaz Welly juga menekankan, bahwa takmir masjid bukanlah penguasa melainkan pelayan jemaah. []