Air Bersih Masih Dibutuhkan Penyintas Bencana Sulbar

Gempa M6,2 yang mengguncang Sulawesi Barat meGempa M6,2 yang mengguncang Sulawesi Barat membawa dampak besar bagi warga. Salah satunya ialah air bersih yang saat ini masih dibutuhkan para penyintas bencana.mbawa dampak besar bagi warga. Salah satunya ialah kebutuhan air yang hingga hari ini masih banyak penyintas yang menggantungkan pemenuhannya pada bantuan air.

Distribusi air dari ACT
Relawan MRI tengah mendistribusikan air bersih bagi penyintas gempa Sulbar di Rangas, Mamuju. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, MAMUJU Pascagempa magnitudo 6,2 yang mengguncang Mamuju dan Majene, kebutuhan air masih mendesak hingga hari ini. Hal tersebut karena masih banyak warga terdampak gempa yang menempati pengungsian dengan keterbatasan fasilitas, termasuk sarana kebersihan dan sumber air. Sedangkan mereka yang sudah kembali ke rumah tak semuanya memiliki sumber air sendiri dan mengandalkan jaringan air yang pipanya sempat mengalami kerusakan akibat gempa.

Hingga masuk bulan Februari saja, jaringan air di sekitar Posko Induk Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Jalan Pangeran Diponegoro, Mamuju Kota belum sepenuhnya pulih. Ruko serta tempat tinggal warga tak memiliki sumber air. Sehingga, mereka harus menghemat air yang ada dan menantikan bantuan air yang tersedia dari berbagai pihak, termasuk ACT yang menghadirkan Humanity Water Truck.

Tandon air di depan rumah warga atau pengungsian di Mamuju dan Majene sejak gempa memang seakan menjadi pemandangan. Mereka sengaja meletakkan penampungan air tersebut agar setiap pihak yang membawa air dalam jumlah banyak bisa membagi untuk mereka sebagian. ACT, sejak menghadirkan Humanity Water Truck sepekan pascagempa saja telah mencatat ratusan ribu liter air terdistribusi ke berbagai titik hingga hari ini.

“Data sementara sampai Rabu kemarin (17/2/2021), sudah lebih dari 360 ribu liter air terdistribusi ke titik pengungsian serta permukiman warga yang kekurangan air di Mamuju dan Majene,” jelas Lukman Solehudin, Koordinator Posko Induk ACT di Mamuju, Kamis (18/2/2021).

Selain air, ACT juga terus penuhi kebutuhan pangan para penyintas melalui bantuan sembako serta air minum dalam kemasan. Pemerataan distribusi menjadi salah satu yang ACT fokuskan dalam mengirimkan bantuan kemanusiaan hasil sedekah terbaik masyarakat ini. Hal tersebut mengingat masih banyak titik terdampak gempa di Sulbar yang jarang mendapatkan bantuan kemanusiaan.

Melibatkan banyak relawan

Begitu besar dan luasnya dampak gempa, dalam merespons bencana di Sulawesi Barat, ACT tak hanya menghadirkan bantuan kemanusiaan dalam jumlah besar, tapi juga mendatangkan ratusan relawan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) dari berbagai daerah. Di fase tanggap darurat saat wilayah terdampak gempa masih terisolir, ACT mengirimkan relawan tambahan (selain relawan lokal) dari Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Tim inilah yang kemudian membuka untuk pertama kali posko kemanusiaan ACT satu hari setelah gempa melanda.

Dan saat ini, masuk fase pemulihan yang tak kalah penting dari fase tanggap darurat, ACT terus menambah personel relawan. Didatangkan dari berbagai wilayah di Sulawesi dan Indonesia timur, relawan MRI juga didatangkan dari Pulau Jawa. Mereka kemudian disebar ke posko-posko unit ACT di Mamuju dan Majene untuk mengawal proses pendistribusian agar merata serta memberikan pendampingan terhadap penyintas.

“Saat ini terdata ada 345 relawan MRI yang terlibat dalam pendampingan penyintas gempa di Sulbar,” tambah Lukman.[]