Air di Gaza: Kebutuhan di Musim Kemarau, Mimpi Buruk di Musim Hujan

Sumber air bersih di Gaza amat dibutuhkan kala musim kemarau. Di satu sisi, kehadiran air di musim hujan menjadi mimpi buruk. Sebagian penduduk harus menampung bocoran air hujan yang membasahi rumah, menggulung selimut dan kasur mereka.

Masyarakat di Khan Younis mengisi drum-drum mereka dari bantuan air bersih Aksi Cepat Tanggap. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Distribusi air bersih menjadi bantuan rutin yang dilakukan Aksi Cepat Tanggap. Humanity Water Tank memiliki jadwal dua pekan sekali berkeliling wilayah Gaza, mulai dari kamp pengungsi di Khan Younis, Alamal, Khozaa, Alqarara, Asda, Al Quba, hingga Rafah.

Oktober ini, bantuan air bersih menyapa lebih dari 2.500 jiwa di wilayah-wilayah tersebut. Said Mukaffiy dari tim Global Humanity Response Aksi Cepat Tanggap melaporkan, kondisi masyarakat Gaza sampai saat ini terus bergantung dari bantuan air bersih yang didistribusikan lembaga-lembaga bantuan kemanusiaan. “Air tanah mereka sudah terkontaminasi oleh limbah. Sanitasi yang buruk membuat air tanah tidak dapat dikonsumsi, sedangkan fasilitas sanitasi hancur karena peperangan,” kata Said.

Belum lagi, sumber mata air semakin sulit dicari. Selain berdampak pada kebutuhan, minimnya air bersih berdampak pada kesehatan masyarakat. Berbagai penyakit seperti diare pun menjadi ancaman.

Menyadari krisis kemanusiaan itu, ACT pun tidak beraksi sendiri. Dalam distribusi kali ini misalnya, ACT berkolaborasi dengan Kitabisa. “Kami mendistribusikan air bersih ke wilayah yang sulit mendapatkan air bersih dan ke keluarga prasejahtera. Humanity Water Tank  mendistribusikan lebih dari satu juta liter air kepada keluarga prasejahtera,” terang Said.

Persoalan air tidak berhenti pada kekurangan air bersih, namun juga banjir. Aisha Abu Nemer tinggal bersama suami dan tiga anaknya di Khan Younis menuturkan kepada Middle East Eye, mimpi buruk datang saat hujan mulai turun. “Kami harus bangun tengah malam untuk mengisi ember dengan air hujan yang membanjiri rumah dan melepas kasur serta selimut dari lantai,” ceritanya. Mereka terjaga sampai hujan berhenti dan selimut mengering.

Rumah Aisha terletak di lingkungan marjinal dan miskin, berukuran sekitar 50 meter persegi dan beratap seng. Ia dan keluarga tinggal di satu ruangan yang berfungsi sebagai ruang tamu, dapur, dan toilet. Satu-satunya kamar tidur yang bersebelahan dengan ruang utama semua anggota keluarga tidur. Ada kasur di lantai dan lemari putih, satu-satunya perabot rumah mereka.

Kondisi itu kembali mengingatkan pada laporan PBB delapan tahun lalu, bahwa pada tahun 2020, Jalur Gaza mungkin tidak dapat dihuni karena masalah parah dengan sistem air, listrik, perawatan kesehatan, dan pendidikan. 

Menurut UNRWA, badan PBB yang peduli pada pengungsi, konflik dan blokade selama bertahun-tahun telah membuat 80 persen penduduk Gaza bergantung pada bantuan internasional.[]