Akademi Relawan Indonesia Gelar Kuliah Visi Kerelawanan

Pada kuliah visi kerelawanan, Ahyudin mengatakan bahwa kerelawanan bukan sekedar aktivitas fisik, namun juga non fisik dan edukasi. Maka kerelawanan tidak bisa dipisahkan dari aktivitas kemanusiasan, kedermawanan dan kerelawanan.

Akademi Relawan Indonesia Gelar Kuliah Visi Kerelawanan' photo
Ketua Dewan Pembina MRI Ahyudin memberikan materi dasar-dasar kerelawanan kepada 80 anggota Masyarakat Relawan Indonesia (MRI). (ACTNews/Nasrudin)

ACTNews, SLEMAN - Akademi Relawan Indonesia (ARI), Masyarakat Relawan Indonesia (MRI), dan Aksi Cepat Tanggap (ACT) menggelar kuliah visi kerelawanan bersama Ahyudin selaku Ketua Dewan Pembina MRI. Acara diselenggarakan di Dusun Gondanglegi, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman pada Ahad (20/10).

Acara ini dihadiri sekitar 80 anggota MRI-ACT se-DIY dan Jawa Tengah. Pada kuliah visi kerelawanan, Ahyudin mengatakan bahwa kerelawanan bukan sekedar aktivitas fisik, namun juga non fisik dan edukasi. Maka kerelawanan tidak bisa dipisahkan dari aktivitas kemanusiasan, kedermawanan dan kerelawanan. Formulasi strategi membangun kemanusiaan, kedermawanan dan kerelawanan yang menjadi satu kesatuan. 

“Kuliah visi kerelawanan ini penting, sebab sebagai bangsa yang sering berhadapan dengan bencana, kita memerlukan kerelawanan yang profesional. Untuk menghadapi bencana yang berisiko perlu tangani oleh relawan yang terampil dan profesional," terang Ahyudin.

Adanya Akademi Relawan Indonesia merupakan bagian keseriusan lembaga dalam membangun organisasi kerelawanan untuk memberikan aktivitas yang hebat dalam menghadapi berbagai isu kemanusiaan. "Kita ingin saking seriusnya kerelawanan itu, harus ada akademinya. Jadi kita coba elaborasi secara dalam, bagaimana gagasan kerelawanan ini tumbuh menjadi visi. Dikonsep secara baik dan diorganisasi secara baik," ujarnya.

Ahyudin menjelaskan, sukarelawan bukan pekerjaan yang sepele, enteng, dan biasa-biasa saja. Menurutnya, relawan merupakan sebuah pekerjaan yang membutuhkan keahlian dan sifatnya profesional. Relawan tidak hanya harus siap pada saat bencana alam saja, tapi juga siap setiap saat. "Di luar bencana alam, ada bencana lain yang sifatnya laten, yaitu bencana kemiskinan," jelasnya.


Puluhan anggota MRI DIY dan Jawa Tengah mengikuti Kuliah Visi Kerelawanan di Akademi Relawan Indonesia (ARI), Ahad (20/10). (ACTNews/Nasrudin)

"Harapannya, ARI bisa melahirkan energi-energi sumber daya hebat di bidang kerelawanan, juga memberikan andil positif terhadap lingkungan, baik skala mikro berupa isu lokal, nasional, maupun global," tutup Ahyudin.

Andri Perdana selaku Kepala ARI menyampaikan, sejak 2018, akademi yang terletak di Pakem, Sleman, ini terus menyelenggarakan berbagai pelatihan dan pendidikan (diklat) kerelawanan, baik untuk internal relawan yang tergabung dalam organisasi MRI maupun untuk masyarakat umum.

“Setidaknya, ada 130 pelatihan yang terdiri dari berbagai bentuk program diklat dengan 4.716 penerima manfaat program. Diklat ARI berupa dasar kerelawanan hingga keterampilan klaster kerelawanan, seperti klaster relawan medis, pengelolaan bencana, relawan pendidikan, relawan media jurnalistik, relawan penggalangan dana, serta relawan pemberdayaan masyarakat dan lingkungan. Ke depan, ARI akan meningkatkan intensitas program diklat yang dibutuhkan oleh relawan agar menguatkan aksi kemanusian, baik berupa program lokal, nasional, hingga global,” ujar Andri Perdana. []

Bagikan