Akar Masalah Kekeringan di Baidoa, Somalia

Akar Masalah Kekeringan di Baidoa, Somalia

ACTNews, BAIDOA, Somalia - Alarm kelaparan itu masih berbunyi di berbagai sudut kota di Somalia. Salah satu sudut kota itu adalah Baidoa, kota yang terletak di wilayah administrasi Bay dengan jumlah korban kelaparan, gizi buruk, dan penyakit kulit serta pencernaan yang cukup banyak. Kamis (9/3), Sekretaris Jenderal PBB António Guterres kembali mengingatkan ancaman kelaparan itu ketika menyusuri kamp demi kamp pengungsian di Baidoa, melihat langsung bagaimana kekeringan menyeret jutaan warga Somalia ke jurang kelaparan atau bahkan kematian.

Sepekan terakhir ini, Baidoa memang tengah menjadi sorotan media internasional, termasuk PBB melalui lawatan Guterres beberapa hari lalu. Mungkin kita masih mengingat juga pernyataan Perdana Menteri Somalia yang menyebut sebanyak 110 jiwa di wilayah administrasi Bay meninggal dalam waktu 2 hari karena kasus kelaparan dan penyakit yang ditimbulkan akibat buruknya sanitasi. Inilah kondisi terkini di salah satu kota terpuruk di Somalia. Bahkan, hingga Rabu (8/3) lalu, angka kematian tersebut terus bertambah.

“Di sini, keadaannya semakin kritis. Di wilayah Bay sendiri sudah ada 140 warga yang meninggal akibat menderita diare dan mereka semua rata-rata perempuan dan anak-anak,” ungkap Ali “Marguus” Adan Hussein (65) kepada ACTNews pada Rabu (8/3). Ia merupakan salah satu mitra ACT sekaligus mantan Menteri Pertahanan Negara Somalia di era Pemerintahan Presiden Abdiqasim Salad Hassan (2000-2004).

Kekeringan yang berlarut menjadikan wilayah Bay makin terpuruk dalam empat bulan belakangan ini. Hujan yang seharusnya sudah membasahi tanah-tanah yang tandus sejak akhir tahun lalu tidak kunjung datang. Retakan demi retakan terus terbentuk di atas tanah yang kering. Mau mengandalkan sumur dan waduk pun hampir dipastikan sulit mengingat banyak di antaranya yang juga sudah mengering.

Ali berkisah, sudah dua tahun penduduk di wilayah Bay tidak bisa menanam dan memanen hasil tani dan kebun. Di kampung halamannya, Baidoa, sudah ada 20 ribu lahan pertanian yang kering dan gagal panen. Belum lagi hewan ternak milik warga setempat juga ikut mati karena dehidrasi.

“Unta, sapi, kambing, semua ditotal ada 100 ribu yang sudah mati,” ungkap tetua Baidoa itu. Petani dan peternak, imbuhnya, benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Di beberapa distrik lainnya bahkan sudah tidak memiliki sumber pangan, air bersih, dan ternak lagi. Ditambah dengan konflik yang terus bereskalasi, tak ada pilihan lain bagi mereka selain meninggalkan desa dan mencari wilayah yang dapat memenuhi kebutuhan pangan mereka.

“Baidoa makin penuh dan sesak oleh pengungsi internal,” paparnya.

Dari data yang dihimpun Ali, ada 100 area kamp pengungsian di Baidoa. Setiap area kamp menampung sekitar lebih dari 100 keluarga. Mereka adalah para pengungsi internal yang berasal dari sejumlah distrik di wilayah Bay, seperti Bardalle, Qansaxdhere, Dinsoor, dan Burhakabe. Jumlah tersebut diakuinya terus bertambah.

Hingga Kamis (9/3) kemarin, Al Jazeera juga menyebutkan lebih dari 200 warga memilih meninggalkan rumah mereka yang nihil akan sumber air bersih dan makanan dan rawan akan konflik. Mereka lantas berbondong-bondong ke Baidoa. Di bayangan mereka, Baidoa lebih baik karena cukup sering disuplai kebutuhan pangan dan air bersih oleh organisasi-organisasi kemanusiaan maupun pemerintah daerah.

Para pengungsi internal baru itu tidak tahu, kondisi kamp-kamp di Baidoa juga tidak sebaik yang mereka bayangkan. Seperti yang Ali paparkan, penyakit diare begitu mewabah hingga merenggut 140 jiwa. Air yang ada di sekitar kamp sudah terkontaminasi oleh bakteri diare dan kolera. Satu-satunya cara mendapatkan air bersih adalah dengan mengambilnya di pusat kota yang berjarak sekira 5,5 km dari lokasi kamp mereka.

 

Kurangnya Air Bersih Menjadi Pemicu

“Masalah utama di sini (Baidoa) itu air. Air bersih nyaris tidak ada di desa-desa. Pengungsi internal dan warga yang tinggal di wilayah rural harus ke pusat kota untuk mengambil air di sumur yang dimiliki oleh pihak swasta,” Ali menjelaskan.

Jika tahun 2016 silam beberapa pengungsi internal di Baidoa masih bisa membeli beberapa liter air, kini mereka tidak lagi bisa. Dengan absennya masa panen serta matinya hewan ternak mereka, dari mana lagi mereka harus mencari uang? Para pengungsi internal tersebut sepenuhnya bergantung kepada bantuan kemanusiaan. Masalahnya, bantuan tanggap darurat yang datang pun tidak begitu mencukupi kebutuhan para pengungsi di Baidoa yang kian meningkat.

Pemerintah daerah dan komunitas bisnis setempat kerap menganggarkan bantuan kemanusiaan bagi para pengungsi internal di Baidoa. Ali menyebutkan, bantuan itu mencapai USD 300 ribu yang disalurkan dalam bentuk air bersih dan kebutuhan pangan. Bantuan itulah yang membuat sebagian dari mereka bertahan seadanya di tengah musim paceklik yang berkepanjangan itu.

Bantuan demi bantuan memang datang silih berganti, namun nyatanya belum mampu mengentaskan masalah kekeringan dan kelaparan di Somalia hingga ke akarnya. Awal tahun 2017 ini, Somalia dihadapkan krisis kekeringan dan kelaparan untuk yang ketiga kalinya dalam kurun waktu 25 tahun terakhir. PBB dan organisasi-organisasi kemanusiaan dunia pun serentak menyerukan untuk segera memberikan respon bantuan bagi Somalia agar bencana kelaparan yang menawaskan hampir 260 ribu jiwa di tahun 2010-2012 tidak terulang lagi.


Namun, di samping pemberian bantuan pangan darurat bagi mereka, bukankah sudah saatnya memikirkan bantuan jangka panjang yang mampu menuntaskan masalah kekeringan dan kelaparan di Somalia hingga ke akarnya? Seperti yang telah dijelaskan Ali, air bersih menjadi kebutuhan utama masyarakat lokal. Dengan ketersediaan air bersih melalui penggalian sumur dalam di banyak desa, penduduk lokal tak perlu lagi khawatir soal gagal panen, kematian ternak, maupun sanitasi buruk yang menimbulkan penyakit mematikan. []

Tag

Belum ada tag sama sekali