Akhir Pekan Masygul di Pangandaran

Akhir Pekan Masygul di Pangandaran

ACTNews, PANGANDARAN - Menyebut nama Pangandaran, serempak satu suara tentu akan teringat pada imajinasi tentang liburan, pantai yang syahdu, makanan laut yang berlimpah. Jangan lupakan juga tentang Green Canyon yang terkenal ke seantero negeri itu. Sepanjang tahun, Pangandaran memang menjadi destinasi wisata favorit di Jawa Barat, tak salah jika lema liburan identik dengan Kota di tepi pantai selatan Jawa Barat ini.

Namun, sepekan ke belakang, Pangandaran sedang berduka. Trauma dan sendu bermuara di Pangandaran. Sebabnya berawal dari gejala cuaca buruk yang berlangsung terus menerus sejak pekan-pekan awal bulan Oktober.

Imbas dari cuaca buruk itu, dua kali bencana alam menerjang Pangandaran. Banjir bandang dan puting beliung hanya dalam rentang waktu beberapa hari membuat porak-poranda sejumlah desa di Pangandaran.

Satu pekan lalu, banjir bandang dilaporkan menenggelamkan lebih tak kurang dari 2.000 rumah. Hujan deras sejak minggu (9/10) sampai Senin (10/10) membuat tujuh kecamatan sekaligus merasakan imbas luapan sungai. Banjir menerjang Kecamatan Pangandaran, Mangunjaya, Parigi, Cijulang, Sidamulih, Kalipucang, dan Padaherang. Bahkan sampai sebuah jembatan Putrapinggan di jalan utama penghubung Kecamatan Pangandaran menuju Kalipucang ambruk. Jembatan terputus, mengisolasi Pangandaran dari jalan utama menuju Ciamis di sebelah utara.

Belum juga usai sisa banjir dibersihkan, Pangandaran kembali diterpa cobaan. Angin puting beliung menerpa deras Kecamatan Parigi pada Rabu (12/10) lalu. Tak main-main, angin dengan kecepatan lebih dari 60 km/jam dan berputar liar itu menerjang ratusan rumah.

Sore hari, angin kencang berputar datang tiba-tiba saat langit berselubung mendung. jalur angin puting beliung itu melintasi Dusun Astamaya, Desa Karang Jaladri, Dusun Buniayu, Dusun Bojong Salawe dan Desa Parigi. Catatan terbaru yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pangandaran menyebut kerusakan akibat angin puting beliung menerpa kurang lebih 278 rumah.

Beberapa kerusakan rumah cukup parah diakibatkan karena tertimpa pepohonan besar. Banyak pohon ambruk tak mampu menahan derasnya terpaan puting beliung. Mengutip media lokal Pangandaran, Kepala Desa Kalangjaladri Dedi Kurniadi menuturkan, pepohonan besar seperti kelapa, kayu albasia tumbang menimpa banyak rumah. “Angin datang begitu cepat, terjadi di tengah hujan deras. semua terkejut melihat angin yang bergerak liar,” kisah Dedi.

Meski demikian, pendataan terakhir tidak menemukan fasilitas umum yang rusak. Sebagian besar kerusakan dialami rumah-rumah sederhana di beberapa dusun Kecamatan Parigi. Bantuan mendesak yang dibutuhkan berupa asbes dan terpal untuk menutupi sementara genting rumah yang ambruk atau terbang tak karuan dihantam puting beliung.

Sementara itu, di tengah masygul yang masih menyeruak di seantero Pangandaran, Tim Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Pangandaran masih berjibaku di Parigi. Sampai akhir pekan ini, MRI Pangandaran pasang badan bantu warga Parigi membereskan tumpukan puing-puing sisa runtuhan rumah dan pohon yang tumbang.

Urusan kemanusiaan memang tak kenal lelah. Biar lelah asalkan Lillah. Alhamdulillah. []

Penulis: MRI Jawa Barat
Editor: Shulhan Syamsur Rijal

 

Tag

Belum ada tag sama sekali