Akses Rusak, Harga Bahan Pokok Naik di Wilayah Bencana

"Bayangkan saja, bayar tukang pikul sekali jalan sekarung beras Rp10 ribu. Belum nanti barang-barang yang lain. Kalikan saja kalau 18 karung beras berapa harus bayar? Rp180 ribu. Itulah sebab banyak warung menaikkan harga. Misal, beras harga sebelumnya Rp12.500 per liter jadi Rp15.000," kata Kusnandar kepada ACTNews, Kamis (15/4/2021).

Jembatan Benenain di Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, miring akibat diterjang banjir Ahad awal April lalu. Keadaan itu mempengaruhi harga jual bahan makanan di sejumlah wilayah terdampak bencana yang tidak bisa dilalui karena jembatan tersebut rusak. (ACTNews/Muhamad Ubaidillah)

ACTNews, MALAKA — Kerusakan  jembatan Benenain yang menjadi penghubung pusat kabupaten dan sejumlah kecamatan di Kabupaten Malaka membuat harga kebutuhan pokok naik. Kondisi itu terjadi antara lain di Kecamatan Weliman dan Kecamatan Malaka Barat. Usai jembatan rusak, harga kebutuhan pokok melonjak hingga 20 sampai 30 persen. Keadaan itu memberatkan warga yang juga menjadi penyintas bencana banjir.

Pemilik Warung Bambu di Desa Haitimuk, Kusnandar mengatakan, harga-harga naik karena jembatan miring dan tak bisa dilewati kendaraan roda empat. Sehingga ongkos distribusi barang yang dikeluarkan lebih besar karena harus menyewa tukang pikul untuk melewati jembatan yang miring tersebut.

"Bayangkan saja, bayar tukang pikul sekali jalan sekarung beras Rp10 ribu. Belum nanti barang-barang yang lain. Kalikan saja kalau 18 karung beras berapa harus bayar? Rp180 ribu. Itulah sebab banyak warung menaikkan harga. Misal, beras harga sebelumnya  Rp12.500 per liter jadi Rp15.000," kata Kusnandar kepada ACTNews, Kamis (15/4/2021).

Selain bahan pokok, harga minyak tanah juga mengalami kenaikan. Warga Weliman dan Malaka Barat mayoritas masih menggunakan kompor minyak tanah untuk memasak. Sebelum jembatan rusak, harga minyak tanah Rp4.500 per liter, kini Rp6.000 per liter.

"Itu waktu awal-awal, saya enggak tahu jembatan mau roboh, saya jual minyak tanah harga normal, habis cepat sekali. Ternyata truk-truk (tangki) sudah berjejer enggak bisa menyeberang (jembatan Benenain)," kata Kusnandar.

Seorang warga Desa Moto Ulun, Kecamatan Weliman, yang juga penyintas banjir Nova mengatakan, akibat harga bahan pangan naik, ia terpaksa mengurangi jumlah belanja harian. "Sekarang saya belanja satu liter beras dan telur seperempat kilogram. Itu untuk makan sehari-hari," katanya.

Jembatan Benenain saat ini miring 45 derajat akibat diterjang banjir bandang awal April lalu. Kini jembatan penghubung antarwilayah di Kabupaten Malaka itu tidak bisa dilewati kendaraan roda empat. Hanya pejalan kaki dan pesepda motor yang diperbolehkan menyeberangi jembatan.

Kerusakan jembatan Benenain juga membuat penyintas banjir di Kecamatan Malaka Barat sempat tidak segera mendapatkan bantuan. Warga pun memakan jagung yang sudah terendam banjir selama beberapa hari untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka.[]