Aksi Damai Dibalas Peluru, Sudah 16 Warga Gaza Syahid

Aksi Damai Dibalas Peluru, Sudah 16 Warga Gaza Syahid

ACTNews, GAZA - Jumat ini (30/3) menjadi kebanggaan yang melambung bagi ribuan warga Gaza di Palestina. Belasan sampai puluhan ribu pasang mata tampak padat, riuh, menumpuk di sepanjang garis perbatasan yang memisahkan Gaza dan Israel. Anak muda, si bapak, si ibu, kakek, bahkan sampai si balita yang masih merah, digendong ikut turun tangan meluapkan aksi.  

Hari Jumat (30/3), kepalan ribuan tangan warga Gaza ke langit menjadi pertanda, bahwa aksi sudah dimulai. Bergema tagar di seantero Gaza, #GreatReturnMarch, Hari Kembalinya Tanah Palestina, atau Al Awdah March.

Tak ada yang takut, meski orasi damai di hari pertama Jumat (30/3) kemarin justru malah dibalas dengan senjata. Tak luput juga gas air mata yang dilepaskan dari gendongan drone. Sepanjang seharian kemarin, Jumat selepas salat Jumat di Gaza, ketegangan dikabarkan mulai memuncak.

Mitra Aksi Cepat Tanggap di Gaza tak henti mengirimkan pesan singkatnya. Deretan pesan, gambar dan video yang dikirimkan dari Gaza itu menyimpulkan satu hal; Israel membalas orasi damai ribuan warga Gaza di sepanjang perbatasan itu, dengan tindakan represif. Orasi tanpa senjata, dibalas dengan peluru tajam. Mematikan.  

“Secara serampangan Israel mengirimkan drone gas air mata ke kerumunan warga Gaza di seberang perbatasan. Tak ada yang bisa disebut sebagai ‘pertempuran’, ketika di satu sisi di seberang Gaza mereka terus menembak, sementara kami di sisi Gaza terus menjadi korban penembakan,” kata Mohammed, mitra ACT yang ikut terlibat dalam aksi.

Sampai tulisan ini diunggah, data terkini yang dihimpun oleh mitra ACT di Gaza mencatat, sedikitnya sudah ada 16 warga Gaza yang syahid, wafat sepanjang hari pertama Al Awdah March. Sementara itu, catatan jumlah korban terluka sudah mencapai angka 1.400 orang.

“Dari balik gerbang itu, militer Zionis dengan sniper-snipernya menembaki langsung kerumunan warga Gaza. Tembakan dilakukan hanya dari jarak seratusan meter di depan kerumunan. Darah mengucur dari tubuh ribuan warga Palestina,” tulis Yousef Munayyer dalam akun instagramnya, Jumat (30/3). Yousef salah satu warga Gaza yang jadi saksi Al Awdah March, ia menuliskan banyak pandangan mata di Gaza dalam akun pribadinya.

Sementara itu, sejak Jumat (30/3) kemarin itu pula, di tengah kerumunan warga Gaza sepanjang perbatasan, Tim ACT ikut ambil bagian dalam sejarah. Merah Putih dan Bendera Palestina diangkat tinggi-tinggi di antara kerumunan.  Merah Putih menjadi bukti hadirnya Indonesia membela kemerdekaan Palestina.

“Mewakili semangat yang sama, bahwa Indonesia mendukung apapun perjuangan damai yang dituntut oleh ribuan warga Gaza. Insya Allah ACT akan hadir selama enam pekan berjalannya aksi damai ini. Membuka kebutuhan berupa Dapur Umum Indonesia. Kami memastikan logistik pangan tercukupi sepanjang ikhtiar ribuan warga Gaza dalam Al Awdah March,” kata Bambang Triyono dari Global Humanity Response ACT.

Aksi besar di Gaza, memperingati “Land Day” ke-42

Tentang Al Awdah March, mulai Jumat (30/3) kemarin, sampai sekira enam pekan ke depan, demonstrasi besar tengah berlangsung sepanjang hari tanpa henti. Aksi dilakukan serentak di sepanjang perbatasan Israel dan Gaza. Protes ribuan warga Gaza dalam aksi ini mengerucut pada satu tuntutan penting, yakni kembalinya hak warga Palestina atas rumah dan tanah mereka yang kini dijajah secara terang-terangan oleh Israel.

Mereka, ribuan warga Gaza yang tergabung dalam aksi besar ini pun menyebutnya sebagai Land Day. Tanggal 30 Maret telah menjadi hari simbolis yang selalu diingat. Di mana di tanggal itu, tahun 1976 lalu terjadi sebuah peristiwa penting.

Tanggal 30 Maret, 42 tahun silam, enam orang Arab – warga Israel yang mendukung Palestina – dibunuh oleh militer Israel. Pembunuhan itu terjadi dalam sebuah demonstrasi atas pencaplokan Israel terhadap tanah Palestina.

Aksi jangka panjang, paling akbar di Gaza ini akan dijalankan sepanjang enam pekan ke depan, dimulai sejak Jumat 30 Maret hingga berakhir pada 15 Mei atau di puncak hari yang dikenal dengan “Nakba” atau “Malapetaka”.  

Nakba Day, enam pekan ke depan pun menjadi peringatan penting, di mana di hari itu penanda terusirnya ratusan ribu jiwa warga Palestina atas tanah mereka yang dicaplok Israel, tahun 1948 silam. []

sumber gambar: AP, EPA, Dokumentasi Tim ACT Gaza (2018).
Tag

Belum ada tag sama sekali