Aktivitas Pendidikan di Wilayah Bencana Cileuksa Masih Tersendat

Dampak pascabencana longsor masih dirasakan warga Cileuksa. Misalnya terganggunya aktivitas pendidikan. Kini, kegiatan belajar-mengajar kembali terganggu akibat adanya pandemi Covid-19.

Aktivitas Pendidikan di Wilayah Bencana Cileuksa Masih Tersendat' photo
Siswa MI Al Hidayah pada Kamis (23/7) saat mendapat bingkisan dari ACT Bogor. Saat ini mereka menampati gedung sekolah yang baru saja ACT bangun. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, KABUPATEN BOGOR – Seragam batik digunakan oleh puluhan murid Madrasah Ibtidaiyah Al-Hidayah, Blok Cipandawa, Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Kamis (23/7). Meja beradu dengan tangan murid-murid, memecah sunyi perkampungan yang baru saja berdiri sebagai tempat relokasi warga terdampak bencana alam longor Bogor. Pihak sekolah telah melakukan kegiatan belajar-mengajar sejak 20 Juli lalu. Hal ini dilakukan karena sejak awal tahun 2020, pendidikan di kampung tersebut selalu terganggu, mulai dari bencana alam yang menyisakan trauma hingga sekarang saat pandemi Covid-19.

Maman Suparman, salah satu guru MI Al-Hidayah, mengatakan anak-anak di kampungnya telah tengganggu pendidikannya sejak awal tahun 2020. Saat itu bencana tanah longsor memaksa seluruh penghuni Kampung Rancanangka untuk mengungsi ke tempat lain (sebelum direlokasi di Blok Cipandawa). Termasuk anak sekolah di kampung tersebut harus mengungsi. Selain itu, kondisi sekolah yang juga terdampak longsor harus menjadi kenyataan yang mereka terima. Berbulan-bulan murid sekolah dan seluruh warga kampung bertahan di pengungsian.

“Waktu itu kami (warga Rancanangka) mengungsi di bangunan sekolah yang enggak kena longsor, ya kegiatan sekolah diliburkan juga. Tapi kemudian ada bantuan sekolah darurat,” jelas Maman, Kamis (23/7).

Walau demikian, tambah Maman, pendidikan yang dilakukan di sekolah darurat tak semenyenangkan di bangunan sekolah asli. Pasalnya, tenaga pengajar yang berasal dari relawan tak selalu ada setiap saat. Ada saatnya mereka kembali ke tempat asal mereka. Dan, hal itu pun terjadi akhir Februari hingga menjelang Maret, sedangkan bangunan sekolah permanen belum terbangun saat itu.

Belum tuntas permasalahan pascabencana alam, pendidikan di Blok Cipandawa terpaksa dihentikan kembali untuk mengikuti instruksi pemerintah memutus rantai sebaran Covid-19. Walau di Cipandawa tak ditemukan kasus corona, sekolah tetap menghentikan aktivitas sekolah dan diganti dengan kegiatan belajar dari rumah. Guru dan muridnya tinggal di kampung yang sama, akan tetapi kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi tiga guru yang mengajar, terlebih tak ada lagi bantuan dari relawan pendidik.

“Dari Maret lalu, sudah mulai berkurang bantuan pendidikan sama bantuan lainnya. Mungkin karena aktivitas di luar ruangan harus dibatasi juga,” kata Maman.

Kamis (23/7) kemarin, Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk kesekian kalinya datang ke Cipandawa. Hari itu, bantuan pangan diberikan untuk guru, implementasi dari program Sahabat Guru Indonesia. Tak hanya guru, siswa di MI Al-Hidayah turut mendapatkan bingkisan. 

Khisnul Khasanah dari tim program ACT Bogor mengatakan, ACT telah mendampingi warga di Cipandawa (sebelumnya Rancanangka), Desa Cileuksa, Sukajaya sejak awal bencana longsor Januari lalu. Saat itu, Tim Disaster Emergency Response ACT ikut menembus Cileuksa yang terisolir akibat terputusnya akses jalan akibat longsor. Hingga kini, berbagai bantuan telah tersalurkan dan akan terus berlanjut, mulai dari pangan, bangunan, pendidikan, kebutuhan air bersih sampai pengiriman hewan kurban yang akan dilakukan saat Iduladha nanti.

“Saat ini warga yang dulu tinggal di Rancanangka sudah direlokasi di Blok Cipandawa. Sudah setelah tahun lebih setelah terjadi bencana. Akan tetapi, warga, khususnya anak-anak yang masih sekolah masih memerlukan bantuan,” jelas Khisnul.

Untuk kebutuhan pendidikan, saat ini MI Al-Hidayah yang menjadi satu-satunya pendidikan tingkat dasar di Blok Cipandawa masih membutuhkan tambahan ruang kelas. Pasalnya, satu ruang kelas saat ini diisi oleh dua hingga tiga tingkat kelas. Satu guru pun  harus mengajar untuk beberapa kelas sekaligus dalam satu waktu.

“Ruang kelas, ruang untuk guru, perpustakaan serta fasilitas MCK mendesak untuk dipenuhi saat ini. Mengingat jumlah murid mencapai ratusan, guru yang sedikit serta murid dan guru yang saat ini sangat perlu pendampingan untuk menghilangkan trauma pascabencana,” tambah Khisnul.[]


Bagikan