Amanah Kepedulian Warga Bandung dan Netizen Indonesia Tembus Kamp Pengungsian Rohingya

Amanah Kepedulian Warga Bandung dan Netizen Indonesia Tembus Kamp Pengungsian Rohingya

ACTNews, COX’S BAZAR - Ratusan pengungsi nampak membuat antrian di lapangan terbuka. Satu per satu pengungsi terus berdatangan, mengular dan membuat antrian baru. Tua dan muda mengantri dengan tertib, tak terkecuali bayi-bayi yang ada dalam dekapan ibu mereka. Sementara itu, di aula milik Pemerintah Bangladesh tak jauh dari lapangan terbuka tersebut, beberapa dokter dan perawat tengah mempersiapkan peralatan medis dan obat-obatan.

Sabtu menjelang siang (16/9), layanan kesehatan gratis Aksi Cepat Tanggap kembali menyapa para pengungsi baru yang ada di Bangladesh. Kali ini, bantuan kesehatan tersebut menyasar pengungsi Rohingya yang bermukim di Kamp Shamlapur, Teknaf, Distrik Cox’s Bazar.

Menurut Rahadiansyah selaku Koordinator Tim SOS Rohingya ACT di Bangladesh, Kamp Shamlapur menampung lebih dari 10 ribu pengungsi. Namun demikian, tidak ada akses pendidikan maupun kesehatan di area pengungsian tersebut. Sebagai pengungsi tanpa status kewarganegaraan dan sumber finansial yang mencukupi, mereka sulit mendapatkan akses kesehatan di luar kamp pengungsian.

Bagi para pengungsi Rohingya di Shamlapur, layanan kesehatan Sabtu lalu menjadi bantuan medis pertama yang mereka terima selama berada di sana.

“Mereka tidak bisa ke luar kamp pengungsian dan mendapatkan fasilitas kesehatan di rumah sakit di Bangladesh. Oleh karena itu, kami coba hadirkan layanan kesehatan itu langsung di sini, di kamp mereka. Ini cara kami memuliakan mereka, para pengungsi Rohingya,” ungkap Rahadiansyah.

Ikhtiar untuk membantu dan memuliakan para pengungsi Rohingya di Shamlapur juga tak terlepas dari dukungan masyarakat Indonesia. Layanan kesehatan Sabtu lalu merupakan amanah dari para warga Bandung dan netizen Indonesia yang telah menyalurkan kepeduliannya melalui platform kitabisa.com.

Seperti yang diketahui sebelumnya, mereka bersama Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menggalang dana untuk saudara-saudara Rohingya. Senin silam (11/9), Ridwan Kamil secara simbolis menyerahkan hasil penggalangan dana yang mencapai angka 4,3 miliar rupiah tersebut kepada ACT.

Bentuk kepedulian masyarakat Indonesia ini lantas menjangkau sekitar 500 pengungsi Rohingya di Shamlapur yang tengah terserang penyakit. Rahadiansyah memaparkan, saat itu banyak sekali balita yang menderita diare, kekurangan nutrisi, hingga beberapa pasien yang mengalami demam dan luka-luka.

“Ada sekitar 4 dokter umum dan 2 perawat di sini. Mereka juga mengecek keadaan ibu hamil dan menyusui. Kami bersyukur warga Indonesia punya kepedulian tinggi untuk mereka, sehingga kita bisa berikan berbagai bantuan seperti pangan, shelter, dan medis. Sebelumnya, layanan kesehatan gratis ACT juga telah menyapa pengungsi Rohingya di Kamp Unsi Prang selama dua hari, yakni Kamis (14/9) dan Jumat (15/9),” tutur Rahadiansyah penuh syukur.

Sekitar 14 km dari Shamlapur, amanah kepedulian warga Bandung dan netizen Indonesia juga berhasil disalurkan di Kamp Waikong, Sabtu (16/9). Untuk para pengungsi Rohingya di kamp tersebut, ada bantuan sembako, air mineral, dan logistik berupa tikar, terpal, serta pakaian.

“Di Waikong, alhamdulillah hari ini ada 5300 jiwa yang mendapatkan bantuan dari warga Bandung dan netizen Indonesia. Di waikong ini memang banyak sekali jumlah pengungsinya, hampir 50 ribu jiwa. Kita juga sudah memberikan bantuan secara bertahap kepada mereka sejak beberapa hari lalu,” imbuh Rahadiansyah.

Untuk menolong Rohingya, Indonesia belum menghentikan ikhtiarnya sampai di sini. Di Bangladesh, bantuan tanggap darurat dari masyarakat Indonesia terus didistribusikan. Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya dari bangladesh, tepatnya di Kabupaten Blora, bantuan pangan yang lebih masif sedang dipersiapkan.

Dua ribu ton beras Indonesia untuk Rohingya tak lama lagi akan dikirimkan oleh Kapal Kemanusiaan. Semangat kemanusiaan masyarakat Indonesia segera melayarkannya hingga ke Bangladesh, menjangkau titik-titik kantung pengungsian warga Rohingya. []

Tag

Belum ada tag sama sekali