Amanah Kurban Para Dermawan Sampai di Negeri Genghis Khan

Di Mongolia, masih banyak warganya yang belum memiliki pekerjaan, sehingga masih banyak yang belum mampu memenuhi kebutuhannya. Pada 2019 lalu, daging kurban dari masyarakat Indonesia membahagiakan momen Iduladha warga Bayan Ulgii di tengah keterbatasan yang ada.

Salah seorang warga yang menerima langsung daging kurban dari para dermawan Indonesia. (ACTNews)

ACTNews, BAYAN ULGII – Jumlah pengangguran masih menjadi masalah di Bayan Ulgii, Mongolia. Angka pengangguran di negara tersebut masih cukup tinggi, yakni sebesar 6% pada akhir tahun 2019 lalu, menurut data dari Bank Dunia. Angka ini masih lebih tinggi dari rata-rata dunia, yakni 5,3%.

Jumlah ini juga terasa di Bayan Ulgii. Yertai Oral, salah satu mitra Global Qurban - ACT yang tinggal di sana mengatakan, pengangguran masih menjadi masalah utama.

“Pengangguran adalah masalah nomor satu. Tingkat pengangguran 3-5 kali lebih tinggi dari standar dunia. Sebanyak 10% dari populasi bekerja di pemerintahan, dan 20% melakukan bisnis. Sementara sisanya adalah gembala dan pengangguran,” kata Yertai.


Banyak masyarakat yang kesulitan mendapatkan penghasilan. Bahkan di tengah cuaca yang dingin, mereka tidak mampu membeli penghangat untuk badan. Yertai bercerita, seorang perempuan tidak mampu membeli batubara untuk penghangat di rumahnya.

“Saya masih tidak bisa lupa ketika seorang perempuan datang kepada saya dan meminta batu bara. Dia bilang, ‘Saudaraku, saya telah membuat api dengan pakaian anak-anak saya untuk menjaga anak-anak saya dan tetap hangat.’ Ketika dia mengatakan itu, saya tidak bisa menahan tangis,” kisah Yertai.


Salah seorang keluarga ketika menerima daging kurban dari Global Qurban - ACT. (ACTNews)

Di tengah keterbatasan tersebut, amanah para dermawan di Indonesia datang membahagiakan mereka pada tahun 2019 lalu. Daging dari puluhan sapi kurban didistribusikan ke masyarakat-masyarakat yang membutuhkan.

Salah satunya adalah Olimpiyad. Pria berumur 40 itu mengaku belum dapat menikah karena kondisi ekonomi yang belum memungkinkan.  Ia senang dengan hadirnya kebaikan masyarakat Indonesia pada Iduladha tersebut.

“Aku tinggal dengan ibuku dan tidak bisa menikah karena sangat miskin. Umurku saat ini 40 tahun. Saya sangat berterima kasih kepada saudara-saudara Indonesia. Selain saat kurban ini, kami juga mendapat paket makanan saudara Indonesia pada bulan Ramadan lalu (2019). Allah memberkati kalian, dan semoga kalian selalu dalam perlindungan-Nya,” harap Olimpiyad.

Syukur saudara-saudara prasejahtera di Bayan Ulgii dan berbagai negara yang dilanda kemiskinan dan krisis kemanusiaan menambah kesempurnaan kebahagiaan Iduladha tahun lalu. Maslahat inilah yang akan Global Qurban - ACT lanjutkan di momen kurban tahun ini, terlebih di masa pandemi yang berdampak signifikan pada kehidupan masyarakat dunia.

"Insyaallah tahun ini kami akan menyapa kembali negara-negara prasejahtera dan terdampak krisis kemanusiaan. Saat pandemi seperti ini, mereka kian terbatas dalam memenuhi kebutuhan hidup. Daging kurban dari masyarakat Indonesia insyaallah akan membahagiakan mereka pada Iduladha mendatang," terang Firdaus Guritno dari tim Global Qurban - ACT. []