Anak-Anak Kembali Jadi Korban Serangan di Idlib

Anak-anak menjadi pihak yang paling terancam dari pecahnya konflik di Idlib. Sejumlah fasilitas anak-anak, salah satunya sekolah, hancur terkena serangan udara.

Anak-Anak Kembali Jadi Korban Serangan di Idlib' photo

ACTNews, MAARET AL NUMAN – Tidak ada keajaiban malam itu. Sejumlah pekerja kemanusiaan tengah mengevakuasi tubuh seorang anak dari reruntuhan puing yang hancur terkena serangan udara di wilayah Maaret al Numan, selatan Idlib, sebagaimana dirilis Al Jazeera, Kamis (29/8) lalu. Serangan udara beberapa kali pecah di kota Idlib akhir Agustus ini.

Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response (GHR) - Aksi Cepat Tanggap (ACT) menyebutkan, serangan di Maaret al Numan juga menghancurkan salah satu sekolah mitra ACT. “Hari ini sedang libur musim panas. Anak-anak tidak berada di sekolah. Kota itu pun sudah seperti kota mati,” lapor Firdaus yang tengah berada di Turki. Ia meneruskan laporan dari mitra, Sabtu (31/8) malam waktu Indonesia.

Serangan terus membuat anak-anak ketakutan. Al Jazeera menyebutkan, jumlah korban anak terus bertambah. Pertengahan Agustus lalu, setidaknya enam orang anak meninggal dunia atas serangan yang terjadi di Desa Deir al-Sharqi, Idlib Selatan. Anak-anak itu diketahui berusia di bawah 18 tahun dan salah satunya berusia empat tahun.

Sejumlah keluarga juga berusaha melindungi anak-anak mereka dengan bersembunyi di dalam bungker. Dilansir dari CBSNews, satu keluarga sampai menggali ruang bawah tanah dengan upaya mereka sendiri. Mereka bersembunyi di sana untuk melindungi diri dari serangan udara.

Menurut data PBB tahun 2018, setidaknya 1.106 anak-anak terbunuh dalam pertempuran. Data itu pun disebut sebgai angka yang bisa diverifikasi PBB. Kemungkinan angka sebenarnya jauh lebih tinggi, dikutip dari laman Badan PBB untuk Anak-anak.

Lebih dari 3 juta orang tinggal di kota Idlib, delapan tahun delapan tahun perang berlangsungnya perang saudara membuat sebagian besar warga Idlib memilih mengungsi. Mereka selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit: bertahan di kota yang sewaktu-waktu bisa jadi diserang, atau memilih pergi tanpa kepastian tempat tinggal dan makanan. Middle Eye East menyebut, dengan tidak ada tempat lain untuk pergi, orang-orang di provinsi Idlib berisiko terkena gigitan ular, penyakit, dan tidur dingin di ladang. []

Bagikan