Anak-Anak Palestina Alami Epidemi Kesehatan Mental

Serangan militer Israel terakhir memberikan dampak merusak mental paling besar bagi anak-anak dibandingkan serangan-serangan sebelumnya.

anak gaza
Suzy Ishkontana (7) dan ayahnya, Riad, selamat dari serangan Israel yang menghancurkan kediaman mereka. Anggota keluarga mereka yang lain meninggal dunia dalam serangan Zionis tersebut. (AP/Abdel Kareem Hana)

ACTNews, GAZA Hidup di bawah bayang-bayang persekusi Zionis memberikan dampak buruk bagi kondisi kejiwaan anak-anak Palestina. Pakar Psikologi Palestina menyebutkan, anak-anak Palestina saat ini mengalami epidemi kesehatan mental akibat serangan-serangan militer Israel.

Dalam wawancara kepada jurnalis Middle East Eye, seorang anak di Gaza mengaku akan selalu berteriak ketika melihat tayangan gambar jenazah di televisi. Hal itu terjadi seketika setelah perasaan sedih muncul.

“Gambar-gambar itu tidak bisa pergi dari kepala saya,” katanya seperti dikutip dari kanal Youtube Middle East Eye pada Rabu (2/6/2021).

Dari kota Gaza juga, seorang ayah bercerita bahwa kedua anak perempuannya yang berusia 12 dan 16 tahun tidak lagi berani ke kamar mandi sendiri sejak serangan Israel pada pertengahan Mei lalu. Mereka harus masuk ke kamar mandi berdua sementara sang ayah harus memegangi pintu kamar mandi. Sang anak harus memastikan bahwa mereka ditemani oleh ayah mereka meski sebenarnya jarak dari kamar mandi ke ruang tamu hanya satu meter.

Dr. Sammy Ouaidy, psikolog anak di Gaza, mengatakan anak-anak Gaza hari ini harus berkompromi dengan trauma dari apa yang mereka lihat dan dengar. Banyak anak yang masih takut ketika malam datang ataupun ketika mendengar ada suara pesawat serta kebisingan apa pun yang timbul dari drone. Gejala-gejala trauma masih ditampakkan, seperti kerap berkeringat, ketakutan, dan cemas akan masa depan. Mereka kerap dihantui perasaan khawatir akan agresi-agresi Israel yang bisa terjadi kapan saja.

Sammy mengatakan, serangan militer Israel terakhir memberikan dampak merusak mental paling besar bagi anak-anak dibandingkan serangan-serangan sebelumnya. Pada serangan-serangan sebelumnya, warga Gaza masih bisa melarikan diri ke wilayah lain yang lebih aman karena serangan saat itu tidak begitu intens. Tetapi pada saat serangan terakhir, benar-benar tidak ada satu pun tempat aman dari serangan Israel. Setiap orang bisa meninggal kapan pun. Sementara hal terpenting bagi anak-anak adalah memiliki tempat yang aman.

Gaza memiliki populasi sekitar 2,2 juta orang, sekitar 65 persennya adalah anak-anak berusia di bawah 18 tahun. Mereka lahir dan besar selama blokade Israel di Gaza sejak 2007. Dalam kurun waktu tersebut, Israel telah meluncurkan sekitar empat operasi besar di Gaza, umumnya dilakukan dengan serangan udara. Hal ini tentu saja memberikan dampak psikologis bagi anak-anak.

Sammy bahkan mengatakan bahwa ada sebuah sindrom spesifik yang dinamakan Sindrom Gaza karena warga Gaza hidup di lingkaran trauma berkelanjutan selama lebih dari satu generasi sejak 1948. Kondisi trauma tetap sama seperti hiperpanik dan depresi. Hanya satu hal yang berbeda yakni bentuk agresinya. Semakin hari,  setiap serangan semakin memburuk dari serangan-serangan sebelumnya.

“Kami hidup dalam kondisi trauma yang langgeng, lingkaran ketakutan yang berkelanjutan, hiperpanik, deprasi, dan pengeboman,” katanya lagi. []