Anak-Anak Penjaringan Tak Luput dari Potensi Gizi Buruk

Di Kelurahan Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, ACT menemukan beberapa anak berpotensi gizi buruk. Mereka membutuhkan penanganan serta pemenuhan gizi agar terhindar dari ancaman nyata itu.

Anak-Anak Penjaringan Tak Luput dari Potensi Gizi Buruk' photo
Seorang anak menangis saat ditimbang berat bedannya di Kamal Muara, Jakarta Utara. Kegiatan ini merupakan bagian dari BeGiTu yang digelar Global Zakat. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA UTARA – Kelurahan Kamal Muara di Penjaringan, Jakarta Utara dikenal dengan permukiman padat penduduk yang sebagian rumah warga berdiri di atas air laut. Kayu sebagai bahan bangunan utama serta bambu yang menyangga rumah menjadi pemandangan di perkampungan ini. Mayoritas warganya bermatapencaharian sebagai nelayan di laut utara Jakarta. Ikan hasil tangkapan dijual dan sebagian lagi dikonsumsi sendiri.

Ekonomi prasejahtera mengepung warga Kamal Muara. Hal ini yang kemudian membawa banyak dampak pada kehidupan mereka. Pangan serta kebersihan lingkungan tempat tinggal warga kurang baik. Begitu juga dengan ketersediaan air bersih, wilayah tepi laut menjadi kendala tersediri untuk urusan air untuk kebersihan dan konsumsi. Selain itu, hal lain yang bisa ditemukan, ialah potensi kasus gizi buruk yang menimpa anak-anak.

Setidaknya hal ini lah yang ditemukan oleh tim Global Zakat pada Sabtu (24/10) kemarin saat melakukan pendataan serta pendistribusian paket gizi bagi warga prasejahtera di Kamal Muara. Melalui program Bengkel Gizi Terpadu (BeGiTu) yang menjadikan anak-anak sebagai sasaran utama program, pada Sabtu itu, ada 56 anak yang didata. Namun jumlah ini belum keseluruhan. Terbatasnya waktu karena harus mengunjungi satu per satu rumah yang dihuni balita menjadi kendala tersediri. Hal ini dilakukan demi menghindari kerumunan dan menjaga protokol kesehatan.

“Dari anak-anak yang terdata, akan kami (Tim Medis ACT) validasi datanya dengan puskesmas serta kader posyandu. Diperkirakan dari jumlah tersebut terdapat anak yang termasuk kategori garis kuning (gizi kurang) dan garis merah (gizi buruk),” jelas Dokter Muhammad Riedha Bambang dari Tim Medis ACT, Senin (24/10).

Aksi pada akhir pekan lalu itu merupakan pendataan awal serta pendistribusian paket gizi ke anak-anak yang sudah jelas mengalami kekurangan gizi. Dokter Riedha merencanakan, dalam tiga bulan ke depan, pemantauan kesehatan anak-anak di wilayah permukiman padat penduduk itu akan terus dilakukan oleh tim BeGiTu. Harapannya, gizi anak-anak, khususnya di wilayah prasejahtera dapat terpantau dan membaik jika mereka memiliki potensi gizi buruk.

“Nantinya, lokasi pendampingan gizi dari  program BeGiTu akan terus meluas ke berbagai daerah,” tambah Riedha.

Bengkel Gizi Terpadu sendiri merupakan program pendampingan gizi anak-anak dari Global Zakat-ACT. Sebelumnya, program ini telah berjalan di Lombok untuk mengawasi kondisi gizi balita yang pada tahun 2018 sempat merasakan besarnya kekuatan gempa besar. Pemeriksaan medis hingga pemenuhan makanan bergizi diberikan dari program tersebut.

Riedha pun mengajak seluruh masyarakat untuk bisa terlibat dalam aksi kebaikan ini. Pasalnya, gizi buruk sangat nyata dan besar ancamannya terhadap anak-anak di berbagai daerah. “Sedekah masyarakat sangat berperan besar untuk kelangsungan gizi anak-anak lewat program BeGiTu,” jelasnya.[]