Anak-anak Suriah Masih Terancam Kesehatan Mental hingga Risiko Kematian karena Perang

Krisis kemanusiaan yang terjadi di Suriah secara langsung berdampak terhadap nasib anak-anak. Mereka berisiko secara kesehatan mental hingga kematian karenq perang.

Solidaritas Kemanusiaan Dunia Islam
Seorang anak mengenakan masker tengah berjualan sandal di pasar terbuka Al Raqqa Suriah. (Delil Souleimani/AFP)

ACTNews, SURIAH – Perjuangan yang berat masih terus dirasakan anak-anak di Al Raqqa, Suriah bagian Utara. Pasalnya, empat tahun setelah pertempuran yang terjadi pada 2017, anak-anak ini masih belum memiliki tempat tinggal, akses air bersih, listrik, dan pendidikan.

Pada puncak kampanye pengeboman, Al Raqqa pernah menghadapi 150 serangan udara dalam sehari. Hal ini menyebabkan rusaknya sebagian besar bangunan dan infrastruktur.

“Setiap hari anak-anak dan keluarga di Raqqa hidup di kota yang hancur dengan pilihan terbatas. Di tengah kekeringan, pandemi, dan krisis ekonomi di seluruh wilayah Suriah,” ungkap Direktur urusan Suriah Save the Children Sonia Khush, Selasa (27/7/2021).

Save the Children menyebut anak-anak di Al Raqqa tidak bisa menemukan kesenangan dalam hidup dan mempersiapkan masa depan. Tak hanya itu, anak-anak tengah mengalami krisis kesehatan mental dan berisiko mengalami cedera hingga kematian karena perang.

Laporan ini juga mengungkapkan, setidaknya 80 persen bangunan sekolah rusak yang mengakibatkan anak-anak Al Raqqa sulit mengakses pendidikan. Kondisi diperparah dengan kekeringan di timur laut Suriah yang menyebabkan krisis kesehatan masyarakat. Hal ini turut menjadi penyebab peningkatan penularan penyakit melalui air dan tantangan mencegah penularan Covid-19.

“Saya takut ketika anak-anak saya pergi keluar karena mungkin mereka akan terluka. Saya juga khawatir akan ada sesuatu (ranjau darat) di antara bangunan-bangunan yang hancur,” ungkap Aida, seorang janda dan ibu dari empat anak, yang tinggal di sebuah rumah rusak yang tidak memiliki akses air dan listrik.[]