Anak Gangguan Jiwa Dipasung 7 Tahun, Ibundanya Lumpuh Akibat Polio

Yehezkiel Eka Putra (15) hampir tujuh tahun diikat di kamarnya. Hal itu dilakukan Jumirah (45) ibundanya yang kini seorang janda. Jumirah mengaku, ia tidak bisa mengawasi Kiki karena mengalami lumpuh parsial akibat polio. Keduanya pun membutuhkan bantuan perawatan kesehatan.

Tim MRI dan ACT Jawa Tengah menemui Kiki Rabu (22/7). (ACTNews)

ACTNews, SALATIGA – Hampir tujuh tahun kaki Yehezkiel Eka Putra (15), warga RT 2/RW 10, Kelurahan Noborejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, diikat menggunakan kain. Bocah yang disapa Kiki itu mengalami gangguan jiwa dan hanya tinggal bersama ibunya yang mengalami strok.

Jumirah (45) ibu Kiki, sudah lama menderita polio. Penyakit itu membuat anggota tubuh Jumirah tidak berfungsi parsial, keadaan itu membuatnya tidak sanggup mengurus Kiki. Rabu (22/7) ACT dan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Jawa Tengah mendatangi Kiki dan ibunya. 

“Alhamdulillah kemarin kami silaturahmi ke rumahnya kemudian memberikan pengertian kepada pihak keluarga. Kiki saat ini sudah tidak dipasung dan terlihat lebih senang,” ungkap Ardian Kurniawan Santoso perwakilan MRI Jawa Tengah, Kamis (23/7).

Ardian menjelaskan, kondisi Kiki dan Jumirah memprihatinkan. Jumirah adalah janda yang harus mengurus anaknya seorang diri. Ardian dan tim pun meminta izin kepada Jumirah untuk mengevakuasi Kiki ke rumah sakit jiwa.

“Apa yang dilakukan oleh Jumirah adalah rasa kasih sayang terhadap anaknya. Karena keterbatasan fisik Jumirah yang mengalami lumpuh sebelah menjadikan dirinya tak mampu mengawasi Kiki jika lari-lari dan kadang mengamuk,” kata Ardian.

Diungkapkan oleh Jumirah, lanjut Ardian, pernah suatu saat Kiki pergi dari rumah. Perilakunya yang di luar kendali menyebabkan Kiki hampir tertabrak truk di jalan raya. Melihat kondisi ekonomi yang memprihatinkan, MRI dan ACT bersama komunitas Seri dari Salatiga akhirnya mengantarkan Jumirah untuk dititipkan ke Yayasan Sosial Terang Bangsa, di Dusun Randu Ares, Kelurahan Kumpulrejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga.

Heru Tri Suseno (48), kakak Ipar Jumirah menjelaskan sejauh ini belum ada pihak yang membantu penyembuhan Kiki dan Jumirah. Sepengetahuan Heru, bantuan pernah didapatkan kakaknya terakhir tahun 2010. “Setelah itu tidak ada bantuan yang didapatkan Bu Jumirah. Sementara untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari biasanya diberi oleh sanak keluarga atau tetangga terdekat,” kata Heru.

Heru juga bercerita kondisi rumah Jumirah pernah dilakukan survei Dinas Sosial Kota Salatiga terakhir pada tahun 2018. “Pernah dapat bantuan untuk membangun rumah tetapi hanya berupa material sedangkan biaya tukang ditanggung sendiri oleh keluarga,” terangnya.

“Semoga apa yang kami lakukan ini bermanfaat untuk sesama. Tidak ada niat apa-apa kecuali ingin memanusiakan manusia,” pungkas Ardian. Ia menjelaskan, sangat terbuka lebar bagi dermawan yang ingin membantu kesehatan Kiki dan Jumirah.[]