Ancaman Kekeringan Kembali Hantui Warga Kampung Cicau

Kekeringan menjadi permasalahan rutin bagi warga Cicau, Kelurahan Gunung Tandala, Kawalu, Tasikmalaya. Perkampungan yang hanya dihuni puluhan keluarga ini bertahan dengan keadaan serba terbatas.

Tanah persawahan yang retak akibat mulai masuknya musim kemarau di Tasikmalaya. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, TASIKMALAYA – Tanah di Kampung Cicau, Kelurahan Gunung Tandala, Kawalu, Tasikmalaya pada awal Agustus 2020 ini terlihat kering. Beberapa petak tanah jelas terlihat retakannya. Tanaman juga mulai mengugurkan daun tanda kekurangan air. Wilayah tersebut saat ini mulai masuk musim kemarau, sumur-sumur pun terancam tak bisa dimanfaatkan warga sekitar untuk menyambung kehidupan. 

Cicau merupakan salah satu kampung yang berada di Kota Tasikmalaya. Namun, untuk sampai ke permukiman yang hanya dihuni puluhan keluarga ini cukup jauh dan agak sulit. Bagi kendaraan roda empat yang melintas harus berhati-hati karena jalan yang hanya bisa dilintasi satu mobil dengan pinggiran tebing dan jurang. Tak ada penerangan sepanjang jalan kampung.

Tiap kemarau menyapa, kekeringan menjadi ancaman yang nyata bagi warga. Mayoritas warga bergantung pada hasil kebun dan sawah sebagai pemenuh kebutuhan ekonomi. Namun, sumber air minim, baik untuk pertanian maupun rumah tangga. “Kalau masuk kemarau, sumur yang ada ya airnya kering juga, kita harus cari air di tempat lain,” ungkap Mahmudin, salah satu warga Cicau, Sabtu (1/8).

Kemarau tahun 2020 mulai dirasakan dampaknya oleh warga Cicau sejak Ramadan lalu. Sejak saat itu hingga sekarang, debit air semakin berkurang. Dikhawatirkan, kemarau semakin parah dan membuat kondisi ekonomi warga di tengah pandemi Covid-19 kian terpuruk.

Mahmudin menambahkan, pandemi Covid-19 yang mewabah di kota-kota besar juga membawa dampak hingga kampung yang berada di pelosok Tasikmalaya itu. Selain menjadi petani, warga Cicau juga tak sedikit menjadi buruh angkut kayu ke truk-truk perusahaan besar. Namun, sejak pandemi, perusahaan-perusahaan tersebut mulai berkurang aktivitasnya di Cicau yang mempengaruhi ekonomi warga sekitar.

Mendesaknya sumber air dan fasilitas umum

Di Kampung Cicau, sumber air konsumsi warga berasal dari sumur gali yang tiap kemarau datang juga akan mengalami kekeringan. Tak ada sumur bor di kampung yang masih masuk wilayah kota tersebut. Biaya pembangunan sumur bor yang mahal menjadi kendala, sedangkan warga sendiri ekonominya masih prasejahtera.

Di tengah situasi yang sulit itu, warga kini sangat mengharapkan adanya bantuan sumur bor yang bisa terus mengalirkan air untuk rumah tangga, bahkan pertanian mereka. “Di sini belum ada bantuan apa-apa. Malah selama pandemi ini kami jarang mendapatkan bantuan,” kata Mahmudin.

Selain minimnya sumber air, warga Kampung Cicau juga sulit mengakses layanan kesehatan serta pendidikan. Dua fasilitas penting ini cukup jauh dari kampung mereka. Begitu juga masjid. Di sana hanya ada langgar yang menjadi sarana warga memperkuat keimanan mereka.

Taufik Perdana, Kepala Cabang ACT Tasikmalaya, mengatakan momen Iduladha menjadi ajang silaturahmi bagi ACT dengan warga Cicau. Harapannya, berbagai program kebaikan akan bisa diimplementasikan di kampung yang cukup jauh dari pusat kota dan aksesnya agak sulit ini. “Semua kebaikan untuk warga Cicau tak pernah lepas dari peran serta masyarakat luas. Saling membantu adalah kunci utama menyelesaikan permasalahan,” jelasnya.[]