Aneksasi Palestina Menyisakan Duka Berkepanjangan

Sebagian besar wilayah Palestina sejak tahun 1967 diambil paksa Israel. Aneksasi pun terus terjadi hingga kini. Korbannya bukan hanya teritorial Palestina, tapi juga penduduk yang luka hingga korban jiwa.

Aneksasi Palestina Menyisakan Duka Berkepanjangan' photo
Warga prasejahtera Palestina bertahan di musim dingin dengan kondisi yang serba terbatas. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Juni 1967 seakan menjadi kenangan kelam bagi penduduk Palestina. Mereka harus menerima kenyataan, tanah airnya direbut paksa oleh negara yang baru memproklamirkan kemerdekaan pada tahun 1948, Israel. Walau tak banyak dukungan atas berdirinya Israel, negara baru tersebut tetap melakukan aneksasi demi meluaskan wilayah. Palestina menjadi korbannya, dan tahun 1967 menjadi titik di mana paling besar dampaknya hingga mengubah peta wilayah dua negara itu.

Dalam catatan sejarah, di tahun 1967, ratusan ribu penduduk Palestina harus diasingkan. Mereka melakukan eksodus ke berbagai tempat untuk keluar dari wilayah yang sedang dilanda konflik. Jika ditotal sejak tahun 1948 ketika Israel menyatakan merdeka, ada 1,1 juta penduduk Palestina yang diasingkan hingga tahun 1967. Sampai saat ini, di era modern, Palestina terus dijajah Israel, berimbas pada meningkatnya warga Palestina yang menjadi korban aneksasi serta konflik kemanusiaan.

Proses aneksasi Israel, selain mengambil paksa wilayah, juga membawa penderitaan bagi penduduk Palestina. Korban tembak Israel, sejak konflik 1967 hingga 1959, telah mencapai 2-5 ribu orang. Jumlah tersebut belum termasuk pembantaian penduduk Palestina yang tak terdata hingga pembakaran permukiman di Tepi Barat pada masa itu.


Perbandingan peta wilayah Palestina dan Israel dari tahun 40an dan tahun ini. Perang di tahun 1967 menjadi waktu paling berpengaruh pada perubahan peta wilayah ini. (ACTNews)

Penduduk Palestina tak punya banyak perlawanan. Mereka hanya bermodalkan batu yang dilempar, sedangkan militer Israel membalasnya dengan tembakan. Sejak tahun 1967 itu sampai saat ini pun pencaplokan wilayah Palestina terus terjadi. Sudah setengah abad lebih Israel yang dikenal dunia internasional sebagai negera nomor satu pelaku kejahatan kemanusiaan, tak segan memberikan tembakan hingga hukuman penjara bagi penduduk Palestina yang melawan.

Saat ini, ketika negara lain sedang berlomba-lomba menguatkan ekonominya, Palestina masih saja bergulat untuk memperjuangkan hak atas wilayah. Negara yang pernah menjadi lokasi kiblat pertama umat Islam ini, hari ini telah kehilangan nyaris seluruh wilayahnya. Penduduk Palestina kini bertahan dengan blokade serta serba kesulitan akibat konflik berkepanjangan. 

Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Palestina bertemu dengan beberapa warga yang menjadi korban konflik 1967 dan masih bertahan hidup hingga kini. Usia mereka memang tak muda lagi, kondisinya pun tak sempurna. Pada awal Juli 2020 ini, ACT menyerahkan bantuan kursi roda bagi mereka.

Pemberian bantuan kursi roda bagi warga Palestina juga bukanlah yang pertama kali. Said Mukkafiy dari tim Global Humanity Response - ACT mengatakan, selama tahun 2020 sudah ratusan kursi roda ACT salurkan bagi disabilitas di Palestina. “Sudah ratusan kursi roda tersalurkan selama tahun 2020. Para penerima manfaatnya merupakan penyandang disabilitas baik sejak lahir maupun karena konflik kemanusiaan yang terjadi,” jelas Said.

Kini, konflik kemanusiaan di tanah Palestina menuntut dukungan untuk dituntaskan, khususnya dari penduduk Indonesia. Selain karena terus memakan korban jiwa serta mengambil dengan paksa wilayah, konflik juga tak sejalan dengan amanat pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.[]


Bagikan