Angka Kerawanan Pangan pada Perempuan di Gaza Tinggi

Hingga hari ini, krisis pangan menjadi ancaman terbesar di Jalur Gaza. Penjajahan menjadi penyebab utama kolapsnya kehidupan di Gaza.

Angka Kerawanan Pangan pada Perempuan di Gaza Tinggi' photo

ACTNews, GAZA – Tidak ada jaminan pangan bagi keenam anak Sanuora. Mereka hidup dalam belenggu kemiskinan belasan tahun. Sanuora, ibu tunggal asal Beit Lahiya, Gaza Utara, itu hanya mengandalkan bantuan kemanusiaan dari lembaga pangan internasional.

Tidak ada solusi ekonomi yang bisa Sanuora andalkan. Ia pun sangat kesulitan mencari pekerjaan karena tidak memiliki pengalaman kerja yang terkualifikasi. Bahkan, ia harus berhenti sekolah saat usianya 11 tahun. Orang tua Sanuora dulu tidak memiliki cukup biaya untuk menyekolahkan ketujuh anaknya.

Setelah bercerai dari suaminya, Sanuora tinggal di rumah orang tuanya bersama adik laki-laki dan keenam anaknya. Kehidupan pun semakin memprihatinkan ketika adik Sanuora tidak lagi memiliki pekerjaan.


“Adikku berhenti bekerja, teman dan sejumlah kerabat tidak mungkin membantu kami terus menerus. Aku tidak punya pilihan, namun kami sangat membutuhkan bantuan sehingga anak-anak tidak tidur dalam keadaan perut lapar,” cerita Sanuora kepada World Food Programme (WFP) akhir Juni lalu.

Menurut WFP, membeli makanan dengan cara berhutang atau ansuran menjadi hal yang terus dilakukan warga Gaza untuk mengatasi situasi ekonomi yang semakin sulit. Mereka juga membeli makanan yang lebih murah, terkadang dengan kualitas yang lebih buruk. Orang tua di Gaza pun memberangkatkan anak-anak ke sekolah tanpa makanan atau uang saku untuk makan siang.

Menurut survei yang dilakukan Save the Children dan WFP di wilayah-wilayah yang paling rentan di Gaza, 18 persen ibu hamil dan 14 persen ibu menyusui mengalami malnutrisi, sedangkan 14 persen balita hanya mengonsumsi makanan yang minim. Blokade selama belasan tahun membuat anak-anak kesulitan memperoleh kebutuhan sehari-hari, termasuk air dan makanan pokok. 

Menurut WFP, mendekati satu per tiga populasi Palestina, atau sekitar 1,6 juta jiwa penduduk Palestina tidak mampu membeli makananan pokok yang bergizi. Angka kerawanan pangan pun paling tercatat tinggi pada perempuan. Sekitar 32 persen keluarga di Palestina yang dikepalakeluargai oleh perempuan, mengalami kerawanan pangan. Wilayah Gaza menyumbang angka tertinggi, sebesar 54 persen dari total persentase di atas.[]

Bagikan