Angka Stunting di Indonesia Masih Sangat Tinggi

Survei Status Gizi Balita Indonesia tahun 2019 yang menyebutkan angka stunting berada pada 27,67 persen. Ia mengatakan angka tersebut disebabkan berbagai faktor kekurangan gizi pada bayi.

stunting anak indonesia
Ilustrasi. Jumlah anak stunting di Indonesia masih dianggap sangat tinggi. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA – Angka stunting di Indonesia masih termasuk tinggi. Berdasarkan laporan dari Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) pada tahun ini, ada 31,8 persen anak stunting di Indonesia, sehingga meraih predikat very high (sangat tinggi). 

Stunting di Indonesia disebabkan sebagian kelahiran bayi di Indonesia sudah dalam kondisi kekurangan nutrisi, sehingga saat tumbuh kembang pun kekurangan zat gizi. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sekaligus Ketua Pelaksana Program Percepatan Penurunan Stunting, Hasto Wardoyo.

Hasto merujuk data Survei Status Gizi Balita Indonesia tahun 2019 yang menyebutkan angka stunting berada pada 27,67 persen. Ia mengatakan, hal tersebut disebabkan berbagai faktor kekurangan gizi pada bayi. Sebab itu, sekitar 29 persen dari 5 juta kelahiran bayi setiap tahunnya terlahir prematur atau belum waktunya.


Hal lain yang menyebabkan stunting adalah sebanyak 11,7% bayi terlahir dengan gizi kurang yang diukur melalui ukuran panjang tubuh tidak sampai 48 sentimeter dan berat badannya tidak sampai 2,5 kilogram. "Ini sudah given, artinya bayi lahir 5 juta di Indonesia 1,2 juta produknya sudah di bawah kualitas, inilah yang kemudian stunting 27 persen," kata Hasto yang juga berlatar belakang sebagai dokter spesialis kebidanan dan kandungan.

Tidak hanya itu, angka stunting di Indonesia juga ditambah dari bayi yang terlahir normal akan tetapi tumbuh dengan kekurangan asupan gizi sehingga menjadi stunting. "Yang lahir normal pun masih ada yang kemudian jadi stunting karena tidak dapat ASI dengan baik. Kemudian asupan makanannya tidak cukup," kata Hasto.[]