Angkidah Sebisa Mungkin Menghindari Riba

Berawal dari berjualan keripik di depan rumah, Angkidah sempat memiliki sebuah kios kecil di dekat tempat tinggalnya. Namun, pandemi Covid-19 mendampak usahanya sampai Angkidah mesti menggunakan modal untuk makan sehari-hari. Ia pun membutuhkan modal usaha tanpa riba.

Angkidah tidak ingin meminjam uang karena takut dengan riba. (ACTNews)

ACTNews, ACEH UTARA – Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Pribahasa itu menggambarkan ikhtiar Angkidah (51), penjual keripik pisang asal Desa Keulilee, Kecamatan Nibong, Aceh Utara.

Seiring berjalan waktu, tabungan yang ia kumpulkan sudah digunakan untuk membuka sebuah kios kecil di pinggir jalan. Kiosnya bahkan tidak hanya menjual keripik, melainkan sudah ditambahkan bahan pangan lain seperti minyak goreng, gula, garam, dan kebutuhan dapur lainnya.

Keuletan Angkidah dalam usaha membuat keripiknya sangat dikenal oleh warga sekitar bahkan di luar Kabupaten Aceh Utara. Hingga dilanda pandemi, pendapatannya menurun drastis. "Modal yang kemarin-kemarin sering terpakai untuk beli kebutuhan utama keluarga. Stok di kios jadi susah ditambah, enggak ada modalnya," tuturnya.

Belum lagi ia dan suami harus membayar biaya pendidikan anak-anak. Ia berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan keluarga terutama anak-anaknya dengan rezeki yang halal.

Banyak tawaran pinjaman uang dari bank dan koperasi. Namun, ia memutuskan untuk tidak mengambilnya karena tidak mau berurusan dengan riba. Ia sangat mengharapkan bantuan modal usaha tanpa riba untuk kembali memulai usahanya.[]