Aning Mantap Berkurban hingga 10 Tahun ke Depan Melalui Qurban Intensif

Aning memilih ikut program Qurban Intensif karena sejumlah manfaat yang ia dapatkan. Salah satunya harga hewan kurban yang lebih terjangkau, yakni Rp 10 juta untuk kurban hingga 10 tahun ke depan.

Aning Mantap Berkurban hingga 10 Tahun ke Depan Melalui Qurban Intensif' photo
Sri Retno Waluyaning Sari (45) mengunjungi Lumbung Ternak Wakaf di Blora. Aning dan keluarganya memilih Qurban Progresif selama sepuluh tahun di Global Qurban bukan hanya untuk berkurban, tetapi juga memberdayakan peternak. (ACTNews/dok.pribadi)

ACTNews, YOGYAKARTA Penggiat origami asal Kota Gede, Yogyakarta, Sri Retno Wahyuning Sari atau akrab disapa Aning (45), memilih berkurban untuk jangka waktu 10 tahun. Bersama suami dan kakaknya, Aning memilih ikut program Qurban Intensif di Global Qurban.

Ada sejumlah alasan yang mendorong Aning dan keluarga berkurban secara intensif. Ia mengaku, dengan Qurban Intensif ia mendapat sejumlah manfaat. “Pertama, niat kita berkurban untuk beberapa tahun ke depan, insyaallah sudah dicatat sebagai amal baik. Umur kan enggak ada yang tahu ya. Belum lagi, total harganya menjadi lebih murah,” aku Aning, Senin (25/11) lalu.

Dengan mengikuti program Qurban Intensif, Aning membeli hewan kurban untuk 10 tahun ke depan dengan harga Rp 10 juta. Dengan kata lain, ia membeli hewan kurban seharga Rp 1 juta rupiah untuk setiap tahunnya.

"Kelebihan ikut program Qurban Intensif memang salah satunya harga kurban jadi lebih murah daripada harga reguler. Kalau kita bayar dengan kurban reguler sekarang ini Rp 1,6 juta, misalnya. Kalau ikut program Qurban Intensif, harga hewan kurbannya hanya Rp 1 juta. Jadi dengan Qurban Intensif ini jatuhnya lebih hemat," terang Desi Susanti dari Tim Kemitraan Global Qurban-ACT.

Selain itu, menurut Aning, dengan mengikuti program Qurban Intensif, ia dapat membantu memberdayakan petani. "Dana yang kita bayarkan di awal digunakan sebagai modal ternak, jadi banyak peternak yang diberdayakan," imbuhnya.

Sementara itu, perkenalan Aning dengan Global Qurban sudah dimulai cukup lama, yakni tahun 2015. Ia dan keluarga saat itu masih tinggal di Kalimantan Barat. Kala itu, Global Qurban-ACT tengah menjalankan kerja sosial di Kalimantan Barat dan Aning bergabung sebagai relawan. “Ada beberapa program CSR yang bekerja sama dengan ACT, saya bantu. Otomatis jadi relawan. Lalu, ada konflik Suriah, Palestina, saya bantu penggalangan donasi,” cerita Aning.

Tidak berhenti sampai di situ, ketika Aning sekeluarga pindah ke Yogyakarta pada 2016, ia tergabung di relawan Yogyakarta. Kemudian, kerja sama dan saling bantu itu pun berlanjut hingga saat ini.

Nama Aning pun cukup dikenal oleh tim ACT Yogyakarta. Selain menjadi ibu rumah tangga, Aning juga dikenal rajin meyosialisasikan kesenian origami. Ia kerap diminta untuk memberikan pelatihan di sekolah, bahkan kepada relawan. “Sebab itu, nama saya dikenal Aning Origami,” katanya.

Aning juga pernah mengikuti peluncuran Lumbung Ternak Wakaf di Blora. Bersama rombongan ACT Yogyakarta dan donatur lainnya, Aning menengok keadaan ternak dan perawatan yang dilakukan. Pengalaman itu membuat Aning tambah percaya untuk bekurban di Global Qurban. “Saya juga melihat kambingnya gemuk dan dirawat dengan baik,” ungkap ibu tiga anak itu.

Kini, selain memaksimalkan ibadah kurban, Aning pun tengah berusaha menghafal Alquran seperti anak-anaknya yang tengah menempuh pendidikan pesantren. “Saya malu sama anak-anak. Ingin juga menghafal Alquran, mohon doanya,” celetuknya di sela-sela obrolan. []

Bagikan