Anomali Iklim Picu Peningkatan Curah Hujan

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memperkirakan sejumlah wilayah di Indonesia memasuki zona musim hujan. Salah satu pemicunya adalah anomali iklim global dengan adanya aktivitas La Nina di Samudera Pasifik Ekuator.

Arus di bendung katulampa pada 1 Januari 2020. Curah air yang tinggi menyebabkan hujan di wilayah Jabodetabek. (ACTNews/Yudha Hadisana)

ACTNews, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan sejumlah wilayah di Indonesia memasuki musim hujan pada bulan Oktober ini. Kondisi cuaca ini diakibatkan anomali iklim global yang memperlihatkan aktivitas La Nina di Samudera Pasifik Ekuator. Anomali La Nina memicu peningkatan curah hujan di indonesia menjadi 40%.

Wilayah Indonesia yang diperkirakan akan memasuki musim hujan antara lain, pesisir timur Aceh, sebagian Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Pulau Bangka, Lampung, sebagian Kalimantan Barat, sebagian Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Utara, Banten, sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa tengah, sebagian kecil Jawa Timur, sebagian kecil Sulawesi, Maluku Utara, dan sebagian kecil Nusa Tenggara Barat.

Berdasarkan nilai yang ditunjukkan Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation), suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah dan timur ada di kondisi dingin selama enam dasarian terakhir. Perkembangan nilai anomali suhu muka laut di wilayah tersebut adalah -0.6°C pada bulan Agustus dan -0.9°C pada bulan September 2020. Nilai anomali yang telah melewati angka -0.5°C menjadi ambang batas kategori La Nina. 

BMKG mengimbau, peningkatan curah hujan seiring dengan awal musim hujan disertai peningkatan akumulasi curah hujan akibat La Nina berpotensi memicu bencana hidro-meteorologi seperti banjir dan tanah longsor.

Direktur Disaster Management Institute of Indonesia - ACT Wahyu Novyan menerangkan, kondisi iklim ini harap menjadi perhatian masyarakat, ditambah keadaan pandemi Covid-19. “Kita harus mewaspadai munculnya klaster-klaster (Covid-19) baru karena bencana hidrometeorologi ini. Masyarakat tetap harus menjalankan protokol kesehatan sambil bersiap, khususnya bagi warga yang tinggal di daerah rawan banjir. Mulai dari mengevakuasi barang-barang ke tempat bagian rumah yang lebih aman, atau saling membantu,” kata Wahyu.


Tim Disaster Emergency Response Berpatroli di daerah Bidara Cina, pada Senin (5/10) pagi. (ACTNews)

La Nina berbeda dengan El Nino, lanjut Wahyu. Jika La Nina menjadi pemicu musim hujan, aktivitas El Nino memicu musim kering. Keduanya merupakan suhu permukaa air laut yang mempengaruhi konsentrasi awan dan curah hujan. Disebut La Nina jika anomali suhu udara permukaan air laut di bawah -0,5°C dan El Nino jika anomali suhu di atas +0,5°C.

Sementara itu, tim Disaster Emergency Response - ACT melakukan patroli ke titik-titik rawan banjir di Jakarta. Koordinator DER - ACT Lukman Solehudin melaporkan, sejak Senin (5/10) dinihari tim rescue bersiaga di empat titik, yakni wilayah Jagakarsa, Bidara Cina, Cilandak, dan Pondok Labu. “Sampai saat ini tim masih ada di lokasi,” lapor Lukman pada Senin subuh.[]