Antisipasi Kekeringan Ekstrem yang Ancam Indramayu

Kekeringan ekstrem diperkirakan akan terjadi setelah Indramayu tidak diguyur hujan selama lebih dari 60 hari.

ACTNews, INDRAMAYU - Sebuah jalan amblas di Desa Kertasmaya, Kecamatan Jertasenaya, Kabupaten Indramayu Jumat (21/6) lalu. Longsornya jalan ini diduga akibat dari keringnya tanah dari kemarau berkepanjangan yang melanda Indramayu kurang lebih dua bulan belakangan.

"Kita sudah lakukan kegiatan asesmen siang (28/6) ini di Desa Kertasmaya, untuk ke depannya memberikan bantuan logistik untuk posko siaga, serta mendirikan posko baru lagi di tempat aman," ujar Edi Kusdiana, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Indramayu, sore ini.

Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Indramayu juga akan langsung meninjau lapangan bersama BPBD terkait dengan longsornya jalan tersebut. Hingga kini, tim masih berkoordinasi dengan instansi-instansi terkait untuk menjalankan aksi.

"Kita akan ada aksi terkait longsor karena kekeringan di sana. Sampai saat ini kita masih berkoordinasi dengan BPBD dan MRI Cirebon untuk menentukan aksi apa yang akan kita lakukan," jelas Muhsin, Koordinator MRI Indramayu pada hari yang sama.

Beberapa wilayah di Indramayu memang tercatat minim hujan. Demikian pantauan dan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di situs resminya pada Kamis (27/6) lalu. Catatan BMKG, Indramayu termasuk daerah yang berstatus awas atas bencana kekeringan karena telah melewati 60 hari tanpa hujan.

BMKG setempat bahkan menyatakan bahwa di beberapa daerah di Indramayu terancam terkena kekeringan ekstrem akibat dari tidak turunnya hujan selama lebih dari 60 hari tersebut.

"Yang berpotensi kekeringan ekstrem terjadi di Kabupaten Indramayu yaitu Desa Bantarhuni, Kecamatan Gantar," kata Prakirawan Cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Jatiwangi Ahmad Faa Iziyn di Majalengka, pada Kamis (27/6) lalu dilansir dari Antara. Atas kondisi tersebut, ia juga mengimbau warga dan Pemerintah agar bisa meminimalisir dampak dari bencana tersebut.

Supendi, Bupati Indramayu sendiri juga sudah menginstruksikan semua elemen baik dari pemerintah maupun warga untuk waspada terhadap bencana kekeringan, terutama wilayah yang sering terdampak.


"Camat harus turun ke desa-desa, jika ditemukan ada desa yang krisis air, segera koordinasi untuk disuplai air," katanya. Supendi mengatakan, bencana kekeringan ini harus diantisipasi sedini mungkin, agar tidak menimbulkan kegelisahan pada warga. Terutama ia mengimbau kepada kecamatan yang sering mengalami kekeringan seperti Krangkeng dan Gantar.

Kondisi tersebut dibenarkan oleh Muhsin. Berdasarkan informasi yang ia dapatkan, terutama wilayah Indramayu Barat yang notabene dekat dengan persawahan. “Kalau di Kota Indramayu tempat saya sekarang ini, memang kondisi air masih aman. Wilayah yang paling terasa itu informasinya di Indramayu Barat yang dekat dengan persawahan. Di sana mulai terasa kekeringan,” ucap Muhsin.

Namun demikian, MRI Indramayu masih mengumpulkan data resmi terkait dengan musim kemarau dan kekeringan kepada instansi terdekat untuk menentukan apakah langkah MRI selanjutnya untuk mengantisipasi kekeringan ekstrem ini.

Kemungkinan besar aksi yang akan kami lakukan adalah subsidi air bersih, tapi untuk aksi mengantisipasi kemarau secara keseluruhannya kami masih sedang coba koordinasi dahulu dengan instansi terkait, di antaranya itu ada BPBD setempat, dan Balai Besar Wilayah Sungai (BWWS). Kalau memang ditemukan data mengenai titik kekeringan, baru nanti kami akan tentukan aksi selanjutnya yang agar langkah kami tepat untuk mengatasinya,” jelas Muhsin. []