Asa Bangkit di Tengah Pandemi

Pandemi belum juga terlihat kapan berakhirnya, hal ini pun ditanggapi Sudianto, pembuat tempe di Parung, Bogor dengan optimis kebangkitan. Ia yakin, di tengah pandemi usahanya akan terus bertahan dan dapat berkembang sehingga bisa membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar tempat tinggalnya.

Asa Bangkit di Tengah Pandemi' photo
Sudianto sedang memamerkan tempe produksinya dengan merek Echo Raos. Di tengah pandemi seperti sekarang ini, Sudianto tetap memupuk asa untuk bangkit. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, BOGOR – Telah empat tahun usaha tempe dengan merek Echo Raos dijalankan Sudianto. Selama karirnya itu, bapak satu anak ini mampu menghidupi keluarga serta menggelar kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggalnya di Desa Iwul, Parung, Kabupaten Bogor. Ia pun bisa mengajak dua sampai tiga orang kerabatnya untuk ikut bekerja bersama dan mendapatkan penghasilan. Pelanggan hingga reseller pun telah terbangun dengan baik.

Dalam sehari, produksi tempe Sudianto bisa mencapai 50 kilogram. Dari jumlah tersebut, pria asal Cilacap ini mampu menghasilkan sampai ratusan balok tempe. Per balok tempe Echo Raos di pasaran harganya Rp8 ribu - Rp15 ribu. Agak tinggi dibandingkan dengan harga tempe pada umumnya memang. Namun, Sudianto memastikan kualitas tempe buatannya bersih dan menggunakan kedelai pilihan.

Area pemasaran tempe buatan Sudianto pun telah meluas. Tak hanya di Parung saja, tapi juga hingga ke Kota Bogor, Depok, hingga Jakarta. Kualitas menjadi pokok utama usaha Sudianto. Ia tak segan memberikan ganti tempe dengan kualitas terbaik secara gratis jika ada konsumennya yang merasa tak puas.

“Makanya di kemasan tempe saya kasih nomor kontak, biar kalau pelanggan ini kasih kritik dan saran bisa dengan mudah,” jelasnya saat ACTNews berkunjung ke rumahnya yang juga menjadi tempat produksi tempe, Selasa (7/10).

Namun, produksi tempe Echo Raos sedang mengalami hambatan akibat pandemi Covid-19 yang telah berlangsung lebih dari setengah tahun ini. Harga kedelai, khususnya import, sebelum pandemi telah mengalami naik-turun, dan kini kondisi tersebut semakin memburuk karena lebih sering mengalami kenaikan. Pada Selasa kemarin, kedelai import yang Sudianto olah ia dapatkan dengan harga Rp7.800 per kilogram. Harga tersebut lebih baik dibandingkan beberapa bulan lalu saat pembatasan sosial berskala besar sedang dilakukan secara ketat, per kilogram bisa mencapai Rp8.500. Dengan naiknya harga kedelai, pilihan berat bagi Sudianto untuk menaikan harga produk tempenya atau mengurangi berat per balok, dan pilihan pun jatuh pada pengurangan berat, tapi kualitas tempe tetap ia pertahankan.

Di tengah ujian yang sedang melanda usaha Sudianto, semangat untuk bangkit selalu ia gaungkan dalam dirinya. Bangkit yang dimaksud dalam usaha tempe itu ialah mampu meningkatkan kapasitas produksi, walau di tengah pandemi. Hal tersebut dilakukan demi menyongsong era baru saat pandemi ini berakhir.

“Cita-cita saya dengan adanya usaha pembuatan tempe ini bisa membuka lapangan pekerjaan baru,” harap Sudianto.

Ikhtiar Sudianto mewujudkan cita-cita baiknya ini salah satunya dengan terlibat dalam program Wakaf Modal Usaha Mikro dari Global Wakaf-ACT. Permodalan tanpa bunga ini telah ia terima dan sudah dibelanjakan material untuk membangun ruang baru pembuatan tempe. Harapannya, tempat pembuatan tempenya bisa lebih luas lagi, dengan begitu akan dengan mudah meningkatkan kapasitas produksi. “Semoga pandemi juga segera berakhir,” ungkapnya.[]

Bagikan

Terpopuler