Asam Garam Ikhtiar Petani Garam

Para petani garam di Desa Muarabaru, Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, sering menghadapi kendala, mulai dari alat produksi yang minim, harga yang tidak sesuai, sampai tak adanya pembeli di pasaran.

Produksi manual memengaruhi kualitas garam yang dihasilkan. Sehingga para pengepul lebih memilih garam lain dengan kualitas lebih baik. (ACTNews/Ardiansyah)

ACTNews, KARAWANG – Garam yang dipanen Sunan Aji masih menumpuk di gudang, belum ada yang membeli. Petani garam asal Muarabaru, Cilayamaya Wetan, Kabupaten Karawang itu menjelaskan, musim ini sedang sulit menjual garam mentah sehingga ia lebih memilih menyimpannya untuk harga lebih baik nanti.

“Kalau sedang musim, harga beli Rp300-400 per kilogram. Kalau untuk disimpan dahulu mencapai Rp700-1.000. Sudah menutupi operasional sih, kalau harga Rp1.000. Kalau kondisi sekarang ini dijual juga akan rugi, soalnya sekarang itu enggak ada yang beli,” ujar Sunan Aji, Selasa (6/4/2021).

Petani yang memiliki tambak seluas 21 hektare itu tidak menggarapnya sendiri. Satu hektare setidaknya bisa digarap satu orang, sehingga ia membayar delapan petani lainnya untuk menggarap tambak garamnya. Sistem bayaran mereka adalah bagi hasil, sekitar 60 persen untuk petani, dan sisanya untuk pemilik.

Ironisnya, pada musim ini. Sunan merugi, sebab saat ini sulit menjual garam di pasaran, namun ia tetap harus bagi hasil. "Kadang saya beli juga dari mereka karena enggak ada yang beli, kasihan. Mau bagaimana lagi, petani harus kasih makan anak. Kalau enggak dibeli, enggak makan,” katanya. Walhasil saat ini ada sekitar 2.000 ton garam krosok atau garam mentah di gudang Sunan.


Sunan ketika ditemui oleh Tim ACTNews. (ACTNews/Ardiansyah)

Sunan juga pernah menawarkan garamnya untuk diserap ke pabrik. Namun, apa daya, kandungan NaCl kurang serta kadar arang masih banyak. Ia menduga hal itu karena masih menggunakan teknik manual.

“Kalau bikin garam seharusnya pakai HDPE (produksi menggunakan geomembran), kalau saya masih manual jadi secara penghasilan juga masih kurang. Kalau manual itu kan banyak lumpurnya. Kalau pakai HPDE kan garamnya itu lebih bagus,” ujar Sunan.

Ia pun berharap kualitas garam produksinya dapat meningkat. Bagaimana pun, menurut Sunan, kualitas yang baik ikut membesarkan hati para petani garam.

Harga Jual menjadi Kendala

Saat ini ada 200 orang petani garam, dan 70-80 pemilik lahan garam di Desa Muarabaru. Hal ini diungkap Ahmad Fathoni sebagai Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Berkah Samudera Tani Desa Muara Baru.

BUMDes Berkah Samudera Tani saat ini menjadi salah satu penyerap garam di Desa Muarabaru. Bahkan sempat membeli di atas harga pasaran saat harga garam sedang jatuh sebagai apresiasi kepada para petani garam.

“Kita di Rp400, para pengepul Rp250. Namun, dengan kehadiran BUMDes, alhamdulillah harga dari para pengepul menjadi Rp400, standar untuk Karawang. Padahal, itu hanya imbas dari kita belanja di satu desa saja,” cerita Fathoni.

Namun 1,5 bulan kemudian harganya kembali jatuh ketika BUMDes selesai mengeluarkan seluruh modal pembelian. Karenanya Fathoni berharap ke depannya ada yang peduli dengan nasib para petani garam, terutama melihat harga yang demikian.

“Kami menyadari bahwasannya BUMDes bukan badan usaha yang super power di modal. Mudah-mudahan banyak pihak di luar yang mampu membantu menstabilkan harga. Dengan kestabilan harga ini setidaknya jadi pengharapan untuk petambak garam ini untuk meningkatkan standar hidupnya,” harap Fathoni.[]