Askar, Cerita Santri Harus Tahan Lapar Saat Belajar

Askar namanya, salah satu santri Pesantren Tahfidz Bina Masyarakat Mandiri, Desa Cipayung Girang, Kecamatan Megamendung, Bogor. Askar bercerita bahwa dia sering menahan lapar karena keterbatasan pangan di pesantren.

Askar, Santri Pesantren Tahfidz Bina Masyarakat Mandiri, Megamendung, Bogor. (ACTNews)

ACTNews, BOGOR – Askar (8) menjadi santri termuda di Pesantren Tahfiz Bina Masyarakat Mandiri, Desa Cipayung Girang, Kecamatan Megamendung, Bogor. Ia dititipkan sang nenek yang harus mencari nafkah sebagai penjual kopi keliling di Jakarta. Askar menjadi yatim piatu setelah kedua orang tuanya wafat pada bencana tsunami di Palu tahun 2018 lalu. Sebab itu, sang nenek menitipkan Askar ke pesantren dan jarang menjenguk karena alasan ekonomi.

Belajar di pesantren bagi Askar amat menyenangkan. Namun, ada satu hal yang juga amat diinginkan Askar yang masih anak-anak, ia ingin makan bergizi dan cukup. Askar sesekali juga ingin jajan seperti teman-teman seusianya.

“Askar bercerita bahwa dia sering menahan lapar karena keterbatasan pangan di pesantren,” kata Koordinator Program ACT Bogor Khisnul Hasanah, Jumat (18/12). Pandemi Covid-19 turut memengaruhi kesejahteraan pesantren. Mereka pun harus berhemat, bahkan dalam kebutuhan makan.


Sejumlah snatri dan pengurus Pesantren Tahfiz Bina Masyarakat Mandiri. (ACTNews)

Menurut Khisnul, perhatian terhadap pesantren begitu penting. Sebab, pesantren menjadi salah satu fasilitas pendidikan yang paling mudah diakses oleh masyarakat prasejahtera.

“Mereka menyediakan akses pendidikan gratis bagi masyarakat yang kurang mampu. Di satu sisi, pesantren juga harus berjuang memenuhi kebutuhan para santri. Mereka mengandalkan donatur atau orang tua wali. Namun, jumlah donasi yang mereka terima sering kali tidak sepadan dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan,” lanjutnya.

Askar menjadi potret kecil kehidupan di pesantren. Khisnul yakin, masih banyak santri yang membutuhkan dukungan para dermawan di kala mereka belajar.

Aksi Cepat Tanggap dan Masyarakat Relawan Indonesia Bogor mengantarkan 250 kilogram beras untuk santri dan guru di Pesantren Tahfiz Bina Masyarakat Mandiri, Kamis (17/12). Bantuan itu didistribusikan melalui program Beras untuk Santri Indonesia. Sejumlah 46 santri dan 13 guru termasuk pengurus pesantren menjadi penerima manfaat hari itu.

“Semoga kunjungan ACT dan MRI Bogor dapat memberikan kebahagiaan bagi seluruh santri dan pengurus Pesantren Tahfiz Bina Masyarakat Mandiri. Semoga beras yang diberikan dapat mendukung pangan santri. Semoga mereka senantiasa diberikan kesabaran santri dalam menimba ilmu dan menghafal Alquran,” harap Khisnul.[]