Asrama Kecil dan Kelas Kurang, Santri di Bali Tidur Berdesakan hingga Belajar Bergantian

Asrama Pondok Pesantren Syafaatul Ummah Al Muduni yang sempit, membuat santri harus tidur berdesakan dan juga ada yang dititipkan ke rumah warga. Selain itu ruang kelas yang terbatas membuat santri harus belajar bergantian.

santri sedang mengaji
Santri Ponpes Syafaatul Ummah Al Muduni saat sedang belajar. (ACTNews)

ACTNews, KARANGASEM — Seiring berjalannya waktu, santri Pondok Pesantren Syafaatul Ummah Al Muduni di Kampung Sinju, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem semakin bertambah. Namun, penambahan jumlah santri tidak diiringi dengan meningkatnya fasilitas yang ada. 

Pondok yang berdiri pada tahun 2020 tersebut saat ini memiliki 144 santri yang merupakan anak-anak tidak mampu dan anak berkebutuhan khusus. Akibat tidak mampu menampung jumlah santri, pengurus pesantren sampai menitipkan santri untuk tinggal di rumah warga sekitar pondok. 

Arief Mursidi dari tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Bali menjelaskan, meski sempit dan harus berdesakan, namun para santri tetap betah tinggal di pondok. Ini semata-mata karena mereka ingin menuntut ilmu dan betah di pesantren. 

“Asrama tempat mereka beraktivitas berdindingkan bedeng bambu, dan para santri tidur berdesakan dengan teman lainnya. Ketika hujan, air masuk ke dalam dari genting yang bocor hingga membasahi tempat tidur mereka,” kata Arief, Rabu (18/5/2022). 

Selain harus tidur berdesakan, para santri juga harus bergantian menggunakan ruang kelas. Jumlah ruang kelas yang ada juga tidak mampu menampung semua santri dalam satu waktu.