Ata Masih Bertahan di Bawah Tenda Darurat

Gempa bermagnitudo 6,9 yang mengguncang Banten awal Agustus silam menyisakan duka bagi Ata dan keluarganya. Rumah Ata ketika itu runtuh, memaksa dirinya dan kedua anaknya hingga kini menghuni tenda yang ada di depan pelataran bekas rumahnya.

Ata Masih Bertahan di Bawah Tenda Darurat' photo

ACTNews, PANDEGLANG – Sebuah dipan di bawah pohong mangga di depan salah satu rumah di Jalan Raya Teluk Lada, Desa Teluk Lada, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang menjadi tempat bersantai Ata (48). Udara pada Kamis (12/9) siang itu cukup panas. Dipan tersebut kini menjadi tempat ternyaman kala siang bagi Ata.

Di hadapan Ata, reruntuhan bangunan teronggok. Bangunan itu merupakan rumah Ata yang hancur pada bulan lalu, tepatnya Jumat (2/8), ketika gempa bermagnito 6,9 mengguncang Pandeglang dan sekitarnya. Kini, Ata dan kedua anaknya tinggal di bawah tenda yang berada di pelataran bekas rumahnya berdiri.

Kamis (12/9) siang itu, ketika ditemui Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ata sedang berada di dipan yang ada di bawah pohon mangga miliknya. Ia duduk sendirian, sedangkan kedua anaknya sedang bermain di luar rumah. “Kalau siang yang di sini saja (dipan) karena di dalam tenda panas banget. Kalau malam dingin banget,” ungkap Ata.


Sudah satu bulan lebih Ata tinggal di bawah tenda. Rumahnya telah rata dengan tanah. Gempa yang cukup besar pada awal Agustus lalu membuat rumahnya runtuh. Bangunan yang sudah tua serta pondasi yang tak kuat menahan guncangan menjadi penyebab hancurnya rumah.

Pekerjaan Ata kini serabutan. Anak pertama Ata merantau ke Tangerang, terkadang ia mengirimkan sebagian gajinya untuk biaya sekolah dua adiknya. Sedangkan istri Ata merantau ke Malaysia sejak tahun 2015, dan dalam dua tahun terakhir tak ada kabar sama sekali.

Saat ini, Ata seakan menjadi orang tua tunggal bagi ketiga anaknya. Dengan keadaan ekonomi prasejahtera, Ata harus terus membesarkan kedua anaknya. Bebannya juga bertambah ketika harus membangun lagi tempat tinggal untuk dirinya dan anak-anaknya. “Untuk makan saja sudah pas-pasan, apalagi harus bangun rumah,” ungkapnya ketika ditanya alasan tak segera membangun kembali rumah.


Citra Google Street di depan rumah Ata, tahun 2015. Di awal Agustus 2019, rumah Ata rata dengan tanah akibat diguncang gempa bermagnitudo 6,9.

Di dalam tenda tempat tinggal Ata tersimpan berbagai perabotan yang masih bisa diselamatkan dari timbunan rumahnya. Di dalam tenda itu juga, Ata dan dua anaknya tidur. Di Desa Teluk Lada sendiri, hanya rumah Ata yang mengalami kerusakan paling parah, sedangkan beberapa rumah hanya dilaporkan mengalami keretakan ringan pada temboknya.

Andine dari Tim Mobile Social Rescue (MSR)-ACT mengatakan, di Pandeglang terdapat sekitar seratus rumah rusak dari ringan hingga berat. Selain di Pandeglang, bangunan yang dilaporkan mengalami kerusakan juga ada di Kabupaten Lebak dan Cilegon. “Gempanya memang terasa sangat kuat, sampai-sampai kendaraan yang sedang melaju bisa oleh dan berpotensi kecelakaan,” ungkapnya mengenang gempa Agutus lalu. Ketika gempa, mobil tim MSR-ACT nyaris mengalami kecelakaan ketika dalam perjalanan akibat tak stabil karena tanah yang terguncang.

Saat ini, Aksi Cepat Tanggap (ACT) sedang melakukan penggalangan dana secara daring untuk pembangunan kembali rumah Ata. Target donasi sebesar Rp 200 juta sedang dikumpulkan melalui www.kitabisa.com/campaign/pakata.[]

Bagikan