Bagaimana Kondisi Gaza Setelah Serangan Terakhir?

Selepas kesepakatan gencatan senjata, Gaza kesulitan dari berbagai sektor. Sejumlah fasilitas rusak dan berdampak ke kehidupan masyarakat sehari-hari.

kondisi gaza terkini
Warga Gaza membersihkan bangunan yang hancur pascaserangan. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Setelah serangan besar terakhir di Gaza selama sebelas hari di akhir Ramadan lalu, masyarakat di sana terus berbenah. Banyak fasilitas hancur dan menyulitkan kehidupan. Kondisi ini diceritakan Tahany Ahmed Qasim, Kepala Cabang Aksi Cepat Tanggap (ACT) Palestina.

"Kehidupan masyarakat terdampak kini kebanyakan bergantung kepada bantuan dari luar negeri. Hampir 80 persen orang-orang mengalami kesulitan, dan 70 persen dari total masyarakat Gaza kini menganggur," jelas Tahany saat melakukan panggilan video di acara deklarasi Komite Kemanusiaan Internasional Pembebasan Palestina (KKIPP) di Balikpapan, Jumat (4/6/2021).

Menurut Tahany, serangan terakhir merupakan agresi yang cukup dahsyat dan menyeluruh. Apalagi serangan ini terjadi sejak Israel mengisolasi Gaza dari dunia luar selama 15 tahun terakhir, sehingga menimbulkan dampak yang cukup besar.

"Sekarang ini hampir ribuan orang Palestina yang ada di Gaza menjadi pengungsi internal, karena rumah yang mereka tinggali dihancurkan. Jadi mereka mengungsi, tapi mengungsinya masih di sekitar kawasan Gaza, dan mereka kekurangan bahan makanan," kata Tahany.


Dari segi kebutuhan yang lain, seperti air dan listrik, juga mandek, hal ini berdampak panjang. Tahany menuturkan, dari 2 juta penduduk, 800 ribunya kekurangan air bersih. Listrik pun terbatas, hanya menyala 4 jam dalam sehari karena kekurangan bahan bakar.

Fasilitas kesehatan juga terkendala karena serangan dan isolasi selama bertahun-tahun. Gaza juga saat ini terbatas oleh tenaga medis serta obat-obatan. Sementara di sisi lain, pemerintah Israel terus menekan mereka sehingga kesulitan memperoleh pengobatan. Tahany menceritakan salah satu penyakit yang sulit mendapatkan penanganan ialah untuk pasien kanker.

"Karena biasanya, kalau ada orang yang sakit kanker, mereka harus pergi ke Tepi Barat karena tidak ada fasilitas di Gaza untuk mengobati mereka. Namun efek penyerangan terakhir ini, mereka jadi dibatasi keluar-masuk sehingga menyebabkan banyak penderita kanker yang meninggal dunia," tutur Tahany.

Fasilitas publik lainnya yang terdampak adalah sekolah, di mana sebanyak 54 bangunan sekolah hancur akibat serangan akhir Ramadan lalu. Para murid sekarang diliburkan sementara akibat ketiadaan bangunan tempat mereka belajar.

Di tengah sulitnya kondisi Palestina, kesewenang-wenangan Israel terus berlanjut. Tahany mengatakan, Zionis masih melakukan penyerangan dan penangkapan di sekitar Al-Quds. Pembatasan juga berlanjut dilakukan oleh pihak Israel.

"Setelah gencatan senjata banyak bantuan yang masuk dari dunia internasional. Namun tidak berlangsung lama, kemudian pintu masuk mulai ditutup lagi. Ketika ada barang masuk, masyarakat harus berkoordinasi dahulu dengan pihak Israel karena mereka yang memegang kendali perbatasan. Jadi ditanya dari mana, mau ke mana dan apa isi barangnya. Jadi sangat detail sekali pemeriksaannya ketika ada barang yang masuk," ujar Tahany.

Meskipun begitu, bantuan tetap sangat dibutuhkan oleh warga Palestina. Bagaimanapun ketatnya, banyak amanah dermawan tetap tersampaikan ke sana. Tahany pun mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Indonesia yang telah mendukung perjuangan warga Palestina.[]